MENTERI UMKM Maman Abdurrahman meminta pelaku UMKM masuk ke sistem SAPA UMKM yang dapat diunggah aplikasinya melalui gawai masing-masing.
“Saya minta wajib UMKM Indonesia masuk ke dalam sistem ini sebagai sistem layanan satu pintu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional UMKM kita ke depan,” ucap Menteri UMKM di Kabupaten Badung, Rabu (13/5/2026), dikutip dari Antaranews.
Menteri Maman dalam Kegiatan Akad Massal KUR 1.000 UMKM Ekonomi Kreatif dan Bursa Wirausaha Unggulan di Bali menjelaskan, SAPA UMKM bukan sekadar aplikasi, namun alat untuk menunjukkan kehadiran Kementerian UMKM di tengah jutaan pelaku usaha.
Ia bercerita bagaimana sulitnya pelaku UMKM di daerah menyampaikan persoalan yang dialami di lapangan, keterbatasan akses ini membuat sistem tersebut diluncurkan mulai hari ini.
Dalam SAPA UMKM, Kementerian UMKM menghadirkan 17 modul yang sesuai dengan kebutuhan pelaku UMKM selama ini, seperti di Bali pelaku usaha mengeluhkan persoalan pembukuan laporan keuangan, kesulitan pemasaran, serta kerumitan pengurusan legalitas.
“SAPA UMKM di dalamnya untuk bisa tahu bagaimana tentang pembukuan laporan keuangan, ada sistem untuk bisa memasarkan dan menjual produk-produk UMKM, ada fitur yang bisa menyambungkan dan menjawab kebutuhan sertifikasi, legalitas, dan akses pembiayaan yang dibutuhkan oleh teman-teman UMKM se-tanah air,” ujar Menteri UMKM.
Selain itu, aplikasi ini akan terkoneksi dengan kepolisian daerah setempat, sebab pemerintah menghadirkan fitur pelaporan praktik pemerasan atau pungutan liar.
Salah satu layanan yang juga penting menurut Maman adalah modul manajemen bencana, dimana ia menyadari banyak potensi bencana di Indonesia yang mengancam UMKM, sehingga memerlukan upaya antisipasi.
“Ini semua kita lakukan dalam rangka menjawab dan berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan terbaik kepada UMKM, tapi pasti yang namanya sebuah program tidak mungkin langsung sempurna, nanti ke depan apabila masih ada hal-hal yang kurang jangan dihina,” kata dia.
Menteri UMKM memastikan akan terus mengevaluasi aplikasi tersebut, seperti saat ini dari 800 orang yang melakukan uji coba, belum semua bisa masuk sistem, termasuk modul yang sudah siap masih di angka 80 persen.
Menurutnya salah satu kendala adalah aplikasi tersebut baru bisa digunakan pada sistem operasi Android, sementara banyak pelaku usaha yang sudah menggunakan iOS.
“Sekarang lagi dalam proses komunikasi dengan iOS untuk mengintegrasikan sistem ini, jadi tadi yang masih pakai handphone iOS belum bisa masuk untuk mengakses tapi prinsipnya sistem ini adalah sistem yang dilakukan, diarahkan, didorong oleh pemerintah untuk memberikan pelayanan kemudahan kepada seluruh usaha mikro,” tutur Maman. []











