Generasi Z (Gen Z) dinilai memiliki peran sangat krusial bagi mesin Partai Golkar, terutama menjelang Pemilu 2029. Berdasarkan berbagai proyeksi, Gen Z bersama generasi milenial akan menjadi kelompok pemilih terbesar pada kontestasi politik mendatang. Karena itu, Partai Golkar dinilai perlu merangkul Gen Z sejak dini melalui penguatan kader muda partai.
Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) DPP Partai Golkar, Prof. Yuddy Chrisnandi, pada Rabu malam, 7 Mei 2026, menerima sejumlah kader muda Partai Golkar di kediamannya di Tebet, Jakarta Selatan. Pertemuan tersebut digelar dalam rangka diskusi sekaligus penguatan kapasitas kader muda Golkar agar terus bergerak di berbagai lini organisasi.
“Generasi muda harus terus bergerak dan mengambil peran di semua lini,” ujar Yuddy.
Dalam diskusi tersebut, Yuddy juga menekankan pentingnya Gen Z melek politik serta memiliki sikap kritis dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Ia mendorong kader muda Golkar memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyampaikan informasi aktual mengenai Partai Golkar kepada kalangan muda di seluruh Indonesia.
“Gunakan media sosial untuk menyampaikan informasi yang positif, aktual, dan menarik tentang Partai Golkar kepada kalangan Gen Z di tanah air,” paparnya.
Yuddy turut mengarahkan kader muda Golkar untuk terus mengawal kepemimpinan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam menghadapi Pemilu 2029.
“Kalian adalah penerus para senior Partai Golkar. Ke depan, kalian yang akan melanjutkan roda organisasi partai ini,” tegas Yuddy penuh semangat.
Sementara itu, Bendahara Umum Bakornas Fokusmaker, Auzi N.R. Kemora, mengapresiasi arahan dan wejangan yang diberikan Prof. Yuddy Chrisnandi kepada para kader muda Golkar.
“Kami siap bekerja dan bergerak hingga ke akar rumput, khususnya di kalangan Gen Z,” ujar Auzi.
Auzi juga menilai diskusi bersama Prof. Yuddy memberikan pandangan penting mengenai perlunya transformasi sistem kaderisasi Partai Golkar agar lebih terstruktur dan berjenjang.
“Diskusi bersama Prof. Yuddy Chrisnandi memberikan saya pandangan mengenai perlunya transformasi sistem kaderisasi ke arah yang lebih terstruktur dan berjenjang. Saya sangat mengamini pandangan beliau bahwa kualitas seorang kader tidak lahir secara instan, melainkan ditempa melalui kultur organisasi yang kuat,” kata Auzi.
“Dengan mengikuti proses yang sistematis, kita akan melahirkan regenerasi kepemimpinan yang tidak hanya cakap secara administratif, tetapi juga memiliki jiwa petarung dan ketangguhan mental untuk menghadapi dinamika politik yang semakin kompleks,” lanjut kader SOKSI tersebut.
Sejumlah kader muda yang hadir dalam pertemuan itu di antaranya Muhammad Raya Sahetapy dari AMPG dan AMPI, Alfin Dwi Satrio dari OKK Bakornas Fokusmaker, serta Rian dari Gapoktan. {golkarpedia}











