Menteri P2MI Mukhtarudin Gandeng 8 Kampus di Kalsel, Siapkan Pekerja Migran Indonesia Berdaya Saing Global

KEMENTERIAN Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menggandeng delapan perguruan tinggi di Kalimntan Selatan (Kalsel) untuk meningkatkan kompetensi pekerja migran Indonesia (PMI).

“MoU ini dalam rangka menciptakan ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” ujar Menteri P2MI Mukhtarudin, sebagaimana keterangan KP2MI, Rabu (24/6/2026).

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) sekaligus Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berlangsung di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Selasa (23/6/2026).

Mukhtarudin menegaskan bahwa kolaborasi dengan institusi pendidikan tinggi merupakan fondasi utama untuk menciptakan ekosistem penempatan dan pelindungan yang terintegrasi bagi pekerja migran.

“Seluruh rangkaian penyiapan kompetensi ini bermuara pada satu visi besar ke depan, yaitu terciptanya ekosistem Brain Circulation,” katanya, dikutip dari Antaranews.

Konsep Brain Circulation yang diusung pemerintah mendesain agar para calon pekerja migran tidak sekadar menjadi buruh di luar negeri, tetapi juga sebagai talenta profesional yang berdaya saing di tingkat global.

“Kita mendesain agar anak-anak bangsa berangkat sebagai talenta global yang profesional, menimba ilmu, teknologi, dan etos kerja di negara maju, untuk kemudian membawa pulang kompetensi terbaiknya demi membangun tanah air,” kata Mukhtarudin.

Mukhtarudin juga mendorong agar kerja sama itu tidak berhenti sebagai seremonial, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata di lapangan demi menghadirkan tata kelola dan pelindungan yang bermartabat bagi para pekerja migran, yang ia sebut sebagai “pejuang ekonomi keluarga”.

Di hadapan para mahasiswa, Mukhtarudin secara terbuka menyinggung persoalan stigma yang selama ini membayangi profesi pekerja migran Indonesia. Dia mengajak seluruh civitas akademika untuk mengubah cara pandang yang keliru itu.

“Selama ini, sebagian masyarakat kita masih memandang sebelah mata profesi pekerja migran, seolah-olah bekerja ke luar negeri identik dengan pekerjaan kasar, tanpa masa depan, bahkan kerap distigma secara merendahkan. Cara pandang ini harus kita luruskan bersama, mulai dari ruangan ini,” kata Mukhtarudin.

Selain isu tersebut, Mukhtarudin juga menyoroti tantangan yang harus dipersiapkan mahasiswa sejak dini untuk menembus pasar kerja internasional untuk kelas medium-to-high skill, di antaranya adalah perlunya kompetensi bahasa dan sertifikasi resmi.

“Sehebat apa pun keterampilan teknis adik-adik, tanpa bahasa yang memadai, peluang untuk naik kelas ke posisi medium-high skill akan tertutup,” jelas Mukhtarudin.

Guna menjawab tantangan itu, melalui kerja sama yang disepakati, kampus akan menghadirkan Migrant Center.  Fasilitas itu akan berfungsi sebagai pusat pelatihan bahasa (Mandarin, Jepang, Korea, Inggris), uji kompetensi teknis, sertifikasi, serta pusat informasi karier internasional.

Rektor Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) Mohammad Zainul menyambut baik dan mengapresiasi kerja sama strategis antara kedua belah pihak.

Zainul menegaskan bahwa sebagai institusi pendidikan tinggi, UNISKA MAB memiliki tanggung jawab moral dan akademis dalam meningkatkan kualitas SDM agar mampu bersaing di pasar kerja internasional.

“Kerja sama ini sangat menopang bagaimana caranya ke depan agar UNISKA mampu membangun skill dan kompetensi, dan tentunya sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja yang ada di luar,” kata Zainul usai acara penandatanganan. []

Leave a Reply