ANGGOTA DPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo mengapresiasi deklarasi inovasi radiogenomics yang digagas Rhemedi Medical Servises sebagai langkah konkret menuju transformasi sistem kesehatan nasional yang lebih prediktif dan berbasis data. Pendekatan ini menjadi langkah maju bahwa Indonesia mulai bergerak ke arah layanan kesehatan modern yang menempatkan pencegahan sebagai prioritas utama.
Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, lebih dari 70 persen kematian akibat penyakit tidak menular seperti kanker, diabetes, dan jantung. Penyakit ini sebenarnya dapat ditekan melalui deteksi dini dan intervensi berbasis risiko.
Namun di Indonesia, tingkat skrining masih rendah. Kementerian Kesehatan mencatat, cakupan deteksi dini kanker payudara melalui SADANIS dan mammografi masih di bawah 30 persen pada tahun 2025. Kondisi ini membuat inovasi seperti radiogenomics menjadi relevan dan mendesak.
“Radiogenomics menghadirkan cara pandang baru dalam dunia medis dengan menempatkan pencegahan sebagai prioritas utama. Kita tidak lagi menunggu orang sakit dulu, tetapi mulai membaca risiko sejak dini dengan pendekatan berbasis data yang lebih komprehensif,” ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, di Jakarta, Rabu (13/5/2026), dikutip dari RM.
Ketua MPR ke-15 dan Ketua DPR ke-20 ini memaparkan, inisiatif radiogenomics yang dikembangkan di bawah kepemimpinan dr. Rheza Maulana Syahputra menghadirkan integrasi antara pencitraan medis dan profil DNA pasien.
Teknologi ini memungkinkan identifikasi risiko kanker atau kelainan organ sejak fase sangat awal, bahkan sebelum gejala muncul. Dalam praktiknya, pola tertentu pada hasil mammografi dapat dikaitkan dengan mutasi gen tertentu yang meningkatkan risiko kanker, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan lebih tepat sasaran.
“Pendekatan ini dikenal sebagai medical intelligence yang memanfaatkan analisis data untuk memetakan risiko kesehatan seseorang secara lebih personal. Dengan teknologi tersebut, dokter dapat melihat potensi penyakit bahkan sebelum gejala muncul. Sehingga, intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan lebih tepat sasaran,” kata Bamsoet.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Komisaris Independen PT Siloam International Hospitals Tbk ini menuturkan, penguatan medical intelligence berbasis data sejalan dengan arah transformasi digital kesehatan nasional yang tengah didorong pemerintah.
Integrasi data klinis, radiologi, dan genomik berpotensi menjadi tulang punggung sistem kesehatan masa depan. Sekaligus meningkatkan efisiensi pembiayaan melalui pencegahan penyakit kronis yang selama ini menyedot anggaran besar Jaminan Kesehatan Nasional.
“Inisiatif radiogenomics ini harus menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak daerah. Termasuk wilayah dengan akses layanan kesehatan yang masih terbatas, sehingga, dampaknya benar-benar terasa bagi kesehatan masyarakat,” urai Bamsoet.
Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, deklarasi inisiatif radiogenomics telah diwujudkan langsung melalui kegiatan layanan kesehatan terpadu yang digelar di lingkungan MPR pada 11 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Dalam satu hari, sebanyak 200 orang mengikuti pemeriksaan kesehatan, terdiri dari sekitar 130 pemeriksaan payudara dan 70 pemeriksaan abdomen menggunakan ultrasonografi.
Angka tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan deteksi dini yang cepat, terjangkau, dan relevan dengan kondisi kesehatan saat ini. Data Kementerian Kesehatan mencatat kanker payudara masih menjadi kasus kanker terbanyak pada perempuan Indonesia, dengan lebih dari 65 ribu kasus baru per tahun. Sementara, penyakit jantung dan diabetes terus mendominasi penyebab kematian.
“Kita melihat antusiasme masyarakat yang sangat tinggi. Ini bukti nyata bahwa kebutuhan terhadap deteksi dini memang mendesak dan harus dijawab dengan layanan yang mudah diakses serta berbasis teknologi,” pungkas Bamsoet. []











