Hetifah Kagum Antusiasme LOBO 2026, Ojol hingga Dosen Ikut Beri Masukan untuk RUU Sisdiknas

ANTUSIASME masyarakat dari berbagai daerah dalam mengikuti Lomba Orasi Bintang Orator (LOBO) XXI 2026 menjadi bukti bahwa partisipasi publik dalam proses pembentukan undang-undang semakin kuat.

Kompetisi yang digelar Bagian Televisi dan Radio Parlemen, Biro Pemberitaan Parlemen Setjen DPR RI ini dinilai berhasil menjadi wadah kreatif untuk menjaring gagasan masyarakat terkait pembaruan sistem pendidikan nasional.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengapresiasi tingginya minat masyarakat terhadap LOBO XXI 2026 yang mengusung tema “Masukan terhadap RUU Sistem Pendidikan Nasional”. Sebanyak 293 peserta dari Aceh hingga Papua turut ambil bagian dengan menyampaikan pandangan dan solusi atas berbagai persoalan pendidikan di Indonesia.

“Pesertanya sangat beragam, lintas generasi dan profesi. Ada pelajar, mahasiswa, guru, dosen, bahkan pengemudi ojek daring. Ini menunjukkan pendidikan menjadi perhatian seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Hetifah saat diwawancarai Parlementaria di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, keberagaman latar belakang peserta memperkaya perspektif yang diterima DPR. Selain menyampaikan kritik terhadap kondisi pendidikan nasional, peserta juga menawarkan solusi konkret terkait infrastruktur, kualitas tenaga pendidik, pembiayaan pendidikan, hingga prinsip keadilan dan pemerataan akses.

Hetifah menilai forum seperti LOBO dapat menjadi sarana efektif untuk mempertemukan aspirasi masyarakat dengan proses legislasi di DPR RI. Melalui pendekatan yang kreatif dan partisipatif, DPR memperoleh masukan yang autentik dari masyarakat secara langsung.

“LOBO ini sangat baik dan bisa lebih sering dilakukan untuk berbagai isu aktual. Dengan begitu, DPR dapat memperoleh ide-ide segar dari masyarakat terkait persoalan yang sedang dibahas,” ujar Legislator Fraksi Partai Golkar itu.

Ia mengakui proses penjurian tahun ini berlangsung lebih sulit karena hampir seluruh finalis tampil dengan kualitas yang sangat baik. Dari 293 peserta, dewan juri memilih 15 finalis dan kemudian menetapkan tiga pemenang terbaik serta satu pemenang favorit.

Menurut Hetifah, tingginya partisipasi masyarakat menjadi indikator bahwa publik ingin terlibat aktif dalam penyusunan kebijakan nasional, khususnya di bidang pendidikan.

“Semoga ini semakin mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dan menyampaikan gagasan konstruktif bagi perbaikan bangsa,” pungkasnya. []

Leave a Reply