Diskursus mengenai masa depan jurnalisme di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” yang digelar oleh Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Mega Anggrek Hotel, Jakarta, Minggu (15/03).
Dalam forum tersebut, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menegaskan bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi profesi jurnalis, melainkan sebagai instrumen yang dapat memperkuat kerja-kerja jurnalistik di era digital.
“AI tidak hadir untuk menggantikan jurnalis. Ia adalah tools yang dapat membantu mempercepat proses pengolahan data, memperkaya analisis, dan mendukung kerja investigasi. Namun keputusan editorial, kepekaan terhadap konteks sosial, serta tanggung jawab etik tetap berada di tangan manusia,” ujar Hetifah.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi ini menandai fase baru dalam industri media global, di mana otomatisasi mulai mengambil peran pada aspek teknis produksi berita. Meski demikian, menurutnya, kehadiran teknologi tersebut justru membuka ruang baru bagi jurnalisme yang lebih berbasis data dan riset.
“Di banyak negara, otomatisasi sudah menjadi bagian dari ekosistem media modern. Hal ini bukan berarti jurnalisme kehilangan ruhnya. Justru dengan dukungan teknologi, jurnalis dapat lebih fokus pada kerja analitis, investigatif, dan verifikasi fakta yang menjadi inti dari profesi ini,” dikatakan srikandi Partai Golkar tersebut.
Hetifah juga menyinggung hasil survei yang dilakukan oleh Vero ASEAN yang menunjukkan bahwa mayoritas jurnalis di Indonesia telah mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dalam aktivitas profesional mereka.
“Survei tersebut menunjukkan bahwa sekitar 75 persen jurnalis di Indonesia menggunakan AI sebagai alat bantu kerja. Bahkan 84 persen responden menilai teknologi ini memberikan dampak positif terhadap produktivitas mereka. Ini menandakan bahwa komunitas jurnalis di Indonesia cukup adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ungkap Ketua Umum PP KPPG ini.
Meski demikian, Hetifah menekankan bahwa kecepatan produksi informasi yang dimungkinkan oleh teknologi tidak boleh mengorbankan akurasi dan kredibilitas media.
“Publik tidak hanya membutuhkan berita yang cepat, tetapi juga yang dapat dipercaya. Dalam ekosistem informasi yang semakin kompleks, akurasi, verifikasi, dan kedalaman analisis justru menjadi nilai pembeda antara jurnalisme berkualitas dan sekadar produksi konten,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan dalam praktik jurnalistik tetap harus dibarengi dengan kerangka etika yang jelas agar tidak menimbulkan erosi kepercayaan publik terhadap media.
“Teknologi selalu membawa dua sisi: peluang dan risiko. Jika tidak disertai standar etika yang kuat, penggunaan AI justru bisa memunculkan persoalan baru, mulai dari manipulasi informasi hingga menurunnya kredibilitas media. Karena itu, industri media perlu merumuskan pedoman etik yang jelas dalam penggunaan teknologi ini,” katanya.
Lebih jauh, Hetifah menilai bahwa hasil survei yang menunjukkan hanya sekitar 12 persen responden merasa puas terhadap pemberitaan yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI menjadi pengingat penting bahwa publik tetap menaruh kepercayaan pada sentuhan manusia dalam jurnalisme.
“Data tersebut menunjukkan satu hal penting, bahwa publik masih percaya pada jurnalisme yang dikerjakan oleh manusia. Empati, intuisi, dan pemahaman konteks sosial adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh algoritma,” ujar legislator asal Kalimantan Timur ini.
Menurut Hetifah, kolaborasi antara jurnalis, lembaga riset, dan pengembang teknologi menjadi kunci untuk memastikan bahwa perkembangan kecerdasan buatan dapat memperkuat kualitas pemberitaan, bukan justru melemahkannya.
“Integrasi antara data, riset, dan teknologi harus diarahkan untuk memperkuat kualitas informasi yang diterima publik. Di situlah pentingnya kolaborasi antara media, akademisi, dan lembaga riset seperti BRIN agar inovasi teknologi benar-benar mendukung jurnalisme yang bertanggung jawab dan berkualitas,” pungkasnya. {golkarpedia}











