MENTERI Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan pentingnya Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) untuk membangun ikatan emosional dan psikologis yang lebih kuat.
“Perjalanan mengantar sekolah itu menjadi kesempatan bagi ayah untuk membangun komunikasi dengan anak, karena jika ayah tidak mengajak anak berbicara, maka anak akan lebih banyak ‘berbicara’ dengan handphone,” katanya saat meninjau Program GAMAS di SLB Negeri 2 Jakarta, Senin (13/7/2026).
Surat Edaran (SE) Mendukbangga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) diterapkan secara berkelanjutan, termasuk pada hari pertama masuk sekolah hari ini.
Langkah ini diambil pemerintah untuk menjawab tantangan kurangnya peran ayah dalam pengasuhan atau fatherless di Indonesia. Berdasarkan data Pendataan Keluarga Tahun 2025, angka keterbatasan peran figur ayah tersebut kini telah mencapai 25 persen.
Sementara itu, Wihaji mengingatkan ketika orang tua sulit diajak berdialog, maka anak akan mencari jawaban melalui media sosial maupun kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Untuk itu, orang tua perlu meluangkan waktu meletakkan handphone dan berbincang langsung dengan anak.
“Kehadiran ayah memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak. Fenomena ketergantungan pada handphone bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan merupakan tantangan global dan bagian dari ‘peradaban baru’ atau new civilization. Tidak hanya di Indonesia, negara-negara maju juga menghadapi tantangan serupa terkait penggunaan gawai oleh anak-anak,” ujar dia, dikutip dari Antaranews.
Oleh karena itu, Mendukbangga menegaskan kembali bahwa tujuan utama dari Program GEMAR dan GAMAS adalah mendorong orang tua, khususnya ayah, untuk lebih sering berbicara dan hadir secara emosional bagi anak.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun keluarga berkualitas melalui penguatan komunikasi dan pengasuhan dalam keluarga.
Wihaji juga menegaskan, Program GAMAS bukan sekadar seremoni, melainkan akan ditindaklanjuti melalui berbagai program pembinaan keluarga, di antaranya Bina Keluarga Remaja (BKR), Sekolah Bersama Orang Tua, Sekolah Bersama Ayah, Akademi Keluarga, dan program-program lain yang bertujuan memperkuat pengasuhan dalam keluarga. []











