PARTISIPASI saya dalam Roundtable Discussion “Southeast Asian Political Parties Role in Building the ASEAN Community” di Hanoi pada 8 Juni 2026, yang diselenggarakan oleh Diplomatic Academy of Vietnam dalam kerangka ASEAN Future Forum 2026, menjadi pengalaman berharga.
Untuk pertama kalinya, perwakilan partai politik dari seluruh Asia Tenggara duduk bersama para pakar dan cendekiawan, bertukar gagasan tentang penguatan peran politik dalam pembangunan Komunitas ASEAN. Inisiatif ini merupakan langkah nyata mewujudkan Visi Komunitas ASEAN 2045 di tengah dinamika regional dan global yang semakin kompleks.
Forum ini menjadi percontohan penting bagi lembaga kajian lintas partai di Asia Tenggara yang direncanakan berlangsung rutin sebagai agenda sideline AFF. Tujuannya untuk memicu pertukaran substantif guna memperkuat komitmen bersama terhadap persatuan, sentralitas, dan solidaritas ASEAN.
Antusiasme tinggi terlihat dari peserta, mulai dari Partai Revolusioner Rakyat Laos, Partai Demokrat dan Pheu Thai (Thailand), Partai Aksi Rakyat Singapura, Partai Keadilan Rakyat Malaysia, Partai Rakyat Kamboja, CNRT dan Fretilin (Timor Leste), Partai Komunis Vietnam, serta Partai Golkar dan PDI-P dari Indonesia.
Wakil Menteri Luar Negeri Vietnam, Nguyen Manh Cuong, mengemukakan gagasan menarik bahwa kanal komunikasi antar partai politik dapat berfungsi sebagai jalur diplomasi alternatif atau Track Two Diplomacy. Dalam diplomasi formal antarnegara, protokol dan kebuntuan seringkali menghambat diskusi isu sensitif. Komunikasi antar partai yang lebih cair dan informal diharapkan mampu menjadi jembatan pemecah kebuntuan, membuka peluang bagi ASEAN untuk memiliki saluran dialog yang lebih luwes namun tetap konstruktif.
Pengalaman Singapura menjadi studi kasus terkuat. Dengan sumber daya alam terbatas, negara tersebut bangkit menjadi kekuatan ekonomi ASEAN melalui disiplin ketat dalam good governance, perencanaan jangka panjang matang, dan birokrasi efektif.
Berdasarkan laporan Bank Dunia, PDB per kapita Singapura mencapai sekitar USD 90.674 pada 2024, jauh di atas rata-rata ASEAN. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Partai Aksi Rakyat (PAP) dalam menciptakan stabilitas politik dan kebijakan ekonomi yang konsisten, mengutamakan pendidikan, inovasi, dan keterbukaan terhadap investasi asing.
Paparan tentang kemajuan ekonomi Vietnam tak kalah menarik. Dalam dekade terakhir, Vietnam menjelma menjadi tujuan investasi manufaktur terkemuka di Asia. Data Badan Statistik Vietnam menunjukkan pertumbuhan PDB mencapai 8,02% pada 2025, salah satu tertinggi di dunia. Pemerintah Vietnam secara disiplin membangun efektivitas birokrasi, menyederhanakan perizinan investasi, dan memberikan insentif fiskal kompetitif. Kemudahan berusaha ini membawa dampak nyata: gelombang relokasi pabrik dari berbagai negara, termasuk Indonesia, ke Vietnam.
Fenomena ini patut menjadi perhatian serius. Data Kementerian Perindustrian RI mencatat pada periode 2021-2025, lebih dari 30 perusahaan besar dari sektor tekstil, alas kaki, dan elektronik menutup operasi di Indonesia atau mengurangi kapasitas produksi secara signifikan.
Beberapa di antaranya, seperti pabrik sepatu Adidas dan Nike serta pabrik komponen elektronik, memilih pindah ke Vietnam dengan alasan biaya produksi lebih murah, upah tenaga kerja dan logistik yang efisien, serta jaminan stabilitas investasi dan keamanan yang kredibel.
Dorongan sektor swasta Vietnam juga agresif menembus pasar ASEAN. Ekspansi mobil listrik VinFast menjadi contoh nyata. Setelah resmi masuk Indonesia pada 2024, VinFast mendirikan pabrik perakitan di Subang, Jawa Barat, dengan investasi awal sekitar USD 1,2 miliar.
Mereka bahkan menggandeng aplikasi Green SM yang mulai menjamur di kota-kota besar Indonesia, menawarkan layanan taksi dan sewa kendaraan listrik. Kehadiran VinFast membuktikan Vietnam tidak hanya menjadi basis produksi, tetapi juga eksportir teknologi dan solusi mobilitas hijau.
Sektor pariwisata Vietnam juga digarap serius. Promosi agresif destinasi seperti Ninh Binh, Sa Pa, Da Nang, dan Teluk Ha Long berhasil mendongkrak jumlah wisatawan internasional. Pada 2025, Vietnam menerima lebih dari 21 juta kunjungan wisatawan asing, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, menurut laporan Tổng cục Du lịch Vietnam. Ini menjadi pelajaran bahwa penguatan sektor pariwisata, didukung kebijakan visa longgar dan promosi digital, mampu menjadi tulang punggung ekonomi baru.
Refleksi ini membawa pada satu kesimpulan penting yaitu ASEAN adalah kawasan dengan pertumbuhan paling pesat di dunia, dan kemajuan negara sangat ditentukan oleh peran partai politik. Partai politik adalah sarana menjalankan pemerintahan demokratis, menyusun undang-undang, dan merumuskan kebijakan responsif.
Sudah saatnya partai-partai di Asia Tenggara saling bekerjasama dan menjembatani kesenjangan, saling membutuhkan dalam rantai pasok global yang terhubung melalui perdagangan erat. Kerjasama, kolaborasi, dan kemitraan antar partai politik harus diperkuat.
Bagi Indonesia, catatan ini adalah alarm untuk segera berbenah. Kita harus bergerak dari ketergantungan pada bahan mentah menuju produk bernilai tambah tinggi. Hilirisasi dan pembangunan industri harus menjadi niscaya. Jangan sampai kita terus tertinggal.
Pemerintah perlu menata ulang kebijakan ekonomi yang boros dan fokus pada efisiensi, serta memastikan iklim investasi kondusif. Indonesia harus berani bertransformasi dari negara agrarial menuju negara industri modern dan berdaya saing. Masa depan ASEAN adalah masa depan kita bersama, dan peran partai politik akan sangat menentukan arahnya. []
Oleh: Adhe Nuansa Wibisono Ph.D, Pokja Hubungan Luar Negeri DPP Partai Golkar











