Hasil survei elektabilitas partai politik yang dirilis Adidaya Institute pada Mei 2026 menunjukkan peta politik nasional yang menarik sekaligus menyisakan sejumlah pertanyaan penting. Dalam survei tersebut, Partai Gerindra memperoleh elektabilitas sebesar 30,5 persen, jauh berada di atas partai-partai lainnya.
PDI Perjuangan menempati posisi kedua dengan 11,5 persen, disusul PKS 9,1 persen, Golkar 8,6 persen, PKB 7,1 persen, Demokrat 4,4 persen, NasDem 4,0 persen, dan PAN 2,3 persen. Sementara itu, sebanyak 17,6 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan politiknya.
Sekilas, hasil survei ini menunjukkan dominasi yang sangat kuat dari Gerindra. Jika pemilu dilaksanakan pada saat survei dilakukan, Gerindra akan menjadi pemenang dengan selisih yang sangat jauh dibandingkan para pesaingnya. Dominasi tersebut juga terlihat hampir di seluruh kelompok usia, mulai dari Generasi Z, Milenial, Generasi X, hingga Baby Boomers. Bahkan pada kelompok pemilih muda, yang dalam banyak negara sering menjadi kelompok paling kritis terhadap pemerintah, Gerindra tetap menempati posisi teratas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa efek kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto masih sangat kuat mempengaruhi persepsi publik terhadap partainya. Dalam ilmu politik, fenomena ini dikenal sebagai coattail effect, yaitu kondisi ketika popularitas seorang pemimpin memberikan dampak positif terhadap elektabilitas partai yang dipimpinnya atau diasosiasikan dengannya.
Namun demikian, membaca survei hanya dari angka elektabilitas semata sering kali menimbulkan kesimpulan yang terlalu sederhana. Angka 30,5 persen tidak otomatis berarti Gerindra memiliki basis dukungan permanen sebesar itu. Demikian pula angka 11,5 persen untuk PDIP atau 9,1 persen untuk PKS belum tentu mencerminkan kekuatan riil masing-masing partai dalam jangka panjang.
Di sinilah muncul persoalan yang tidak dijawab oleh survei tersebut.
Survei ini memang menginformasikan bahwa terdapat 17,6 persen undecided voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan. Akan tetapi, survei tidak menjelaskan berapa banyak pemilih yang sudah menentukan pilihan namun masih mungkin berubah pikiran. Kelompok inilah yang dalam ilmu politik disebut sebagai swing voters.
Secara teoritis, pemilih dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama. Pertama adalah core voters atau pemilih loyal yang hampir pasti akan tetap memilih partai yang sama. Kedua adalah swing voters atau pemilih yang telah memiliki pilihan tetapi masih terbuka untuk berpindah. Ketiga adalah undecided voters yang benar-benar belum menentukan pilihan.
Kesalahan yang sering terjadi dalam membaca survei adalah menganggap bahwa hanya undecided voters yang dapat mengubah hasil pemilu. Padahal dalam banyak kasus, justru swing voters menjadi penentu utama kemenangan maupun kekalahan suatu partai.
Sejarah pemilu di berbagai negara menunjukkan bahwa perpindahan dukungan dari swing voters sering kali lebih menentukan daripada pergerakan undecided voters. Banyak pemilih yang saat survei dilakukan menyatakan mendukung suatu partai, tetapi kemudian berpindah pilihan karena faktor ekonomi, isu korupsi, konflik politik, kinerja pemerintah, atau munculnya tokoh baru yang dianggap lebih menarik.
Dalam konteks Indonesia, keberadaan swing voters bahkan cenderung lebih besar dibandingkan negara-negara yang memiliki tradisi kepartaian kuat. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya identifikasi partai di kalangan masyarakat. Sebagian besar pemilih Indonesia lebih dekat kepada figur dibandingkan kepada partai politik. Mereka memilih karena tokoh tertentu, bukan karena loyalitas ideologis terhadap partai.
Fenomena tersebut dapat dilihat dalam sejarah politik Indonesia. Pada masa Presiden Soeharto, Golkar menjadi partai dominan. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono menjadi figur yang sangat populer, Partai Demokrat melonjak drastis. Ketika Joko Widodo menjadi simbol harapan perubahan, suara PDIP meningkat tajam. Kini ketika Prabowo menjadi Presiden dengan tingkat eksposur yang sangat tinggi, Gerindra memperoleh keuntungan elektoral yang besar.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian dukungan terhadap partai sering kali merupakan refleksi dari dukungan terhadap figur yang sedang memimpin, bukan semata-mata karena kekuatan organisasi partai itu sendiri.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah Gerindra memperoleh 30,5 persen atau tidak. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: berapa persen dari 30,5 persen tersebut merupakan pemilih loyal dan berapa persen yang merupakan swing voters?
Secara historis, asumsi bahwa sekitar 40 hingga 50 persen dari pemilih yang sudah menentukan pilihan masih tergolong swing voters bukanlah sesuatu yang berlebihan dalam konteks Indonesia. Jika asumsi tersebut digunakan terhadap hasil survei ini, maka dari total 82,4 persen responden yang telah menentukan pilihan, bisa saja sekitar 40 persen di antaranya masih memiliki kemungkinan untuk berpindah pilihan apabila terjadi perubahan situasi politik dan ekonomi yang signifikan.
Apabila skenario tersebut benar, maka peta politik yang terlihat kokoh hari ini sebenarnya masih sangat dinamis. Dominasi Gerindra memang nyata pada saat survei dilakukan, tetapi tingkat kestabilan dukungan tersebut belum dapat dipastikan tanpa mengetahui tingkat loyalitas pemilihnya. Hal yang sama berlaku bagi PDIP, PKS, Golkar, PKB, maupun partai-partai lainnya.
Dengan demikian, survei ini sesungguhnya lebih tepat dipahami sebagai foto kondisi politik Indonesia pada saat tertentu, bukan sebagai ramalan pasti mengenai hasil pemilu di masa depan. Survei berhasil menunjukkan siapa yang unggul hari ini, tetapi belum mampu menjawab siapa yang memiliki basis dukungan paling kuat dan siapa yang paling rentan kehilangan dukungan.
Dari sudut pandang analisis politik, angka yang paling menarik justru bukan elektabilitas masing-masing partai, melainkan informasi yang tidak ditampilkan dalam survei tersebut, yaitu tingkat keyakinan pemilih terhadap pilihannya. Tanpa data mengenai loyalitas pemilih dan proporsi swing voters, kita baru mengetahui posisi para pemain di lapangan, tetapi belum mengetahui arah pergerakan permainan yang sesungguhnya.
Oleh karena itu, bagi para pengamat politik, partai politik, maupun masyarakat, pertanyaan yang paling relevan setelah membaca survei ini bukanlah “siapa yang memimpin?” melainkan “seberapa kuat dukungan yang dimiliki pemimpin tersebut dan seberapa besar kemungkinan dukungan itu berubah?” Di situlah sesungguhnya masa depan peta politik Indonesia akan ditentukan. {golkarpedia}
Oleh Amirudin Asep, SH.
Penasihat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar











