Presiden Xi Jinping Menjawab Dunia, Tiongkok Kini Sangat Maju, Terbuka dan Modern

SAYA harus katakan bahwa menyaksikan kemajuan Tiongkok dari dekat, sangat mengesankan buat saya. Kita mudah terpukau melihat gedung tinggi, kereta cepat, kawasan industri, pabrik canggih, dan teknologi yang bekerja hampir di setiap sudut kehidupan.

Seluruh kemajuan tersebut lahir dari keputusan politik yang berani, perencanaan panjang, dan disiplin luar biasa dalam menjalankannya.

Kesan itu semakin terasa ketika saya memimpin delegasi Partai Golkar menghadiri seminar mengenai pemikiran ekonomi Presiden Xi Jinping dan penerapannya di Provinsi Hunan. Seminar yang digagas International Department of the Communist Party of China (IDCPC) di Hunan Academy of Governance tersebut membuka banyak hal mengenai perjalanan Tiongkok.

Dalam seminar di Hunan Academy of Governance, para akademisi memaparkan strategi modernisasi Tiongkok, mulai dari reformasi dan keterbukaan hingga pembangunan manufaktur canggih.

Tiongkok modern yang kita lihat hari ini tidak muncul dalam semalam. Reformasi dan keterbukaan telah dijalankan sejak 1978. Setiap tahap disusun dengan jelas, dikerjakan dengan serius, lalu diteruskan ke tahap berikutnya.

Fondasi industri dibangun, konektivitas diperluas, perdagangan internasional dibuka, teknologi dikembangkan, dan kemampuan produksi nasional terus diperkuat.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, langkah tersebut bergerak semakin cepat dan terarah. Tiongkok memilih pembangunan berkualitas tinggi sebagai jalan menuju modernisasi. Mereka tidak puas sekadar menjadi lokasi produksi barang murah dunia. Mereka ingin menguasai teknologi, memperkuat manufaktur canggih, mengembangkan ekonomi digital dan energi hijau, serta menciptakan produk bernilai tinggi.

Di sinilah strategi Presiden Xi terasa sangat strategis. Keterbukaan digunakan untuk memperkuat kemampuan dalam negeri. Investasi asing masuk, perdagangan berkembang, konektivitas internasional dibangun, sementara industri nasional terus dipacu agar semakin kuat. Tiongkok berhubungan dengan seluruh dunia, tetapi kepentingan bangsanya tetap menjadi pegangan utama.

Mereka belajar dari dunia, kemudian mengembangkan kemampuan sendiri. Mereka menerima teknologi, lalu melahirkan teknologi baru. Mereka membuka pasar sambil memperkuat pasar domestik. Kerja sama internasional terus diperluas, sedangkan arah pembangunan nasional tetap berada dalam kendali mereka.

Strategi seperti ini memerlukan kepemimpinan yang tahu ke mana negara hendak dibawa. Presiden Xi menghubungkan modernisasi dengan kekuatan manufaktur dan inovasi teknologi. Industri membutuhkan hasil penelitian, sementara penelitian berkembang karena industri memberi kebutuhan yang nyata.

Perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan pelaku industri digerakkan menuju tujuan yang sama. Riset tidak berhenti menjadi laporan di atas meja. Penemuan ilmiah dihubungkan dengan produksi, lapangan kerja, ekspor, dan kebutuhan rakyat. Teknologi diperlakukan sebagai kekuatan strategis negara, sehingga anggaran, manusia, dan kebijakan diarahkan untuk mendukungnya.

Provinsi Hunan memperlihatkan cara strategi besar tersebut diterapkan. Dalam kunjungannya pada September 2020, Presiden Xi memberi arah yang sangat jelas. Hunan didorong menjadi pusat manufaktur, pusat inovasi teknologi, serta pusat reformasi dan keterbukaan.

Arahan tersebut dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Hunan mengembangkan klaster manufaktur canggih, memperkuat kawasan perdagangan bebas, membuka jalur perdagangan dan investasi internasional, serta membangun kerja sama ekonomi dengan berbagai kawasan dunia. Posisi Hunan yang berada di pedalaman tidak dijadikan alasan untuk tertinggal.

Mereka membangun konektivitas dan mencari keunggulan yang bisa ditawarkan kepada dunia. Hambatan diperbaiki, sistem diperbarui, investasi didorong, dan industri lokal disambungkan dengan rantai ekonomi yang lebih luas. Hunan kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjalanan modernisasi Tiongkok.

Saya melihat sendiri bagaimana kata “reformasi” dan “keterbukaan” memiliki arti yang sangat nyata di sana. Reformasi berarti keberanian memperbaiki sistem yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Keterbukaan berarti membangun hubungan dengan dunia, menghapus hambatan yang mengganggu kemajuan, serta menciptakan jalur kerja sama yang menguntungkan.

Semua itu berjalan melalui perencanaan. Tiongkok memiliki tradisi rencana pembangunan lima tahunan yang sangat kuat. Setiap periode membawa sasaran berbeda, tetapi seluruhnya saling menyambung. Dari pembangunan industri berat, reformasi ekonomi, integrasi global, penguatan infrastruktur, sampai kemandirian teknologi dan pembangunan hijau.

Inilah salah satu pelajaran terbesar yang dapat kita bawa pulang. Pembangunan memerlukan kesinambungan. Negara tidak boleh kehilangan arah setiap kali muncul pergantian kepemimpinan atau perubahan suasana politik. Program yang baik harus diteruskan, diperkuat, dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Tiongkok memperlihatkan bahwa kemajuan membutuhkan kesabaran sejarah. Sebuah negara besar harus berani membuat rencana puluhan tahun ke depan. Pemerintah perlu mengetahui sektor yang harus dibangun, teknologi yang harus dikuasai, manusia yang harus dipersiapkan, serta posisi yang hendak diraih dalam perekonomian dunia.

Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia telah memberikan arahan yang sangat tepat sebelum delegasi kami berangkat. Beliau meminta kami mempelajari cara Tiongkok membangun hilirisasi, manufaktur, dan tata kelola industrinya. Menurut Bahlil, Tiongkok sangat hebat dalam memberi nilai tambah kepada sumber daya alamnya.

Pesan itu semakin kuat setelah mendengar pemaparan para akademisi di Tiongkok langsung. Hilirisasi tidak cukup berhenti pada pembangunan pabrik pengolahan. Hilirisasi harus dilanjutkan menuju penguasaan teknologi, penciptaan produk akhir, pembangunan industri pendukung, peningkatan kualitas tenaga kerja, dan kemampuan menembus pasar dunia.

Indonesia memiliki modal yang luar biasa besar. Kita kaya sumber daya alam, memiliki pasar luas, tenaga muda melimpah, dan posisi geografis yang strategis. Semua kekuatan itu harus diolah menjadi nilai tambah. Jangan sampai kekayaan kita dikirim keluar dalam bentuk bahan mentah, kemudian kembali sebagai barang mahal yang diproduksi negara lain.

Tiongkok memberi pelajaran bahwa sumber daya alam baru memiliki kekuatan ketika bertemu dengan ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan kepemimpinan yang konsisten. Kekayaan di dalam tanah harus diubah menjadi pabrik, lapangan kerja, produk unggulan, kemampuan teknologi, dan kesejahteraan rakyat.

Indonesia memiliki jalan dan sistemnya sendiri. Kita memiliki Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, demokrasi, serta pengalaman sejarah yang berbeda. Namun, kedisiplinan Tiongkok dalam merencanakan pembangunan layak dipelajari. Begitu pula keberanian mereka membangun industri, menyiapkan teknologi, dan menjaga kesinambungan kebijakan.

Presiden Xi Jinping menunjukkan bahwa modernisasi dapat berjalan tanpa kehilangan jati diri. Tiongkok membuka pintu kepada dunia sambil menjaga kepentingan nasionalnya. Mereka mengikuti perubahan global, namun tetap menentukan arah perjalanan sendiri.

Itulah kekuatan strategi Presiden Xi. Modernisasi dijalankan dengan perencanaan, keterbukaan dipakai untuk memperkuat bangsa, dan teknologi ditempatkan sebagai mesin kemajuan. Seluruhnya diarahkan untuk membawa Tiongkok berdiri semakin kokoh di tengah persaingan dunia.

Delegasi Partai Golkar datang ke Tiongkok untuk belajar. Kami datang dengan pikiran terbuka, melihat langsung kemajuan mereka, mendengar penjelasan para ahli, dan mencari pelajaran yang dapat diterapkan di tanah air. Sebab perjalanan seperti ini akan kehilangan makna apabila kekaguman berhenti di lokasi kunjungan.

Pelajarannya harus dibawa pulang. Gagasannya harus dibicarakan. Hal-hal yang relevan harus diterjemahkan menjadi kebijakan nyata bagi Indonesia. Tiongkok telah memperlihatkan bagaimana visi besar dapat mengubah wajah bangsa. Sekarang tugas kita memastikan Indonesia mampu mengolah seluruh kekuatannya, bergerak dengan percaya diri, dan menjemput masa depan sebagai negara industri yang maju, berdaulat, serta disegani dunia. []

Oleh: Prof Ali Mochtar Ngabalin MSi, Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar, Ketua Delegasi Partai Golkar Kerjasama Indonesia – China 15 s/d 23 Juli 2026, Visiting Professor Hubungan Internasional Tomsk State University (TSU) Siberia Rusia, Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan

Leave a Reply