MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan proyek strategis nasional (PSN) LNG Abadi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku memprioritaskan tenaga kerja lokal.
“Sebagian anak daerah sudah dikirim untuk sekolah di Cepu, di Akademi Migas milik Kementerian ESDM (Politeknik Energi dan Mineral Akamigas). Mereka semuanya akan kita serap untuk bekerja di proyek Blok Masela sebelum merekrut tenaga kerja dari luar daerah,” kata Bahlil dalam keterangan yang diterima di Ambon, Jumat (17/7/2026).
Pernyataan itu disampaikan Bahlil usai peletakan batu pertama PSN LNG Abadi Blok Masela di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Ia mengatakan proyek yang telah direncanakan sejak 1998 dan sempat tertunda selama hampir 28 tahun itu diperkirakan menyerap sekitar 12 ribu tenaga kerja langsung pada masa konstruksi, serta 800 hingga 1.000 tenaga kerja pada tahap operasi.
Menurut dia, kebutuhan tenaga kerja profesional akan diprioritaskan berasal dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya. Apabila kebutuhan tersebut belum terpenuhi, perekrutan baru akan dilakukan dari daerah lain maupun luar negeri.
“Lapangan pekerjaan yang profesional kita ambil dulu dari tier satu dan tier dua. Jangan sampai anak-anak daerah di sini menganggap investasi masuk, tapi tidak memprioritaskan mereka,” ujarnya, dikutip dari Antaranews.
Bahlil mengatakan proyek tersebut akhirnya memasuki tahap pembangunan setelah melalui enam periode pemerintahan dengan berbagai dinamika, termasuk pembahasan konsep pembangunan fasilitas produksi di laut maupun di darat.
Ia menyebut pemerintah bergerak cepat memberikan kepastian terhadap seluruh perizinan yang telah memperoleh Plan of Development (POD) sehingga pembangunan dapat dimulai.
“Atas arahan dan perintah Presiden Prabowo Subianto, pemerintah bergerak cepat memberikan kepastian terhadap seluruh perizinan yang telah memperoleh Plan of Development (POD), hingga akhirnya hari ini kita dapat memulai pembangunan,” katanya.
Bahlil juga mengingatkan para pemegang konsesi migas agar segera merealisasikan proyek-proyek yang telah memperoleh persetujuan sebagai bagian dari percepatan investasi sektor energi nasional.
Selain penyerapan tenaga kerja, pemerintah juga meminta operator proyek memprioritaskan keterlibatan pengusaha lokal dalam berbagai pekerjaan yang dapat dikerjakan pelaku usaha daerah.
“Saya meminta seluruh pekerjaan yang memungkinkan dikerjakan oleh pengusaha lokal agar diprioritaskan kepada mereka. Investasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah,” ujarnya.
Proyek LNG Abadi Blok Masela membutuhkan investasi sekitar 20,95 miliar dolar Amerika Serikat atau hampir Rp390 triliun. Setelah beroperasi, proyek tersebut ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, sekitar 120 MMSCFD gas, dan 35 ribu barel kondensat per hari guna meningkatkan lifting migas nasional.
Pemerintah menetapkan sedikitnya 60 persen produksi gas dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, sedangkan maksimal 40 persen dapat diekspor.
“Gas ini akan dimanfaatkan untuk mendukung hilirisasi industri, antara lain kebutuhan PT Pupuk, PLN, PGN, serta industri lainnya agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” ujar Bahlil.
Sementara itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyatakan Pemerintah Provinsi Maluku mendukung penuh pembangunan PSN LNG Abadi Blok Masela karena diyakini menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka peluang kerja yang luas bagi masyarakat Maluku.
Ia mengatakan pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, SKK Migas, serta operator proyek untuk memastikan masyarakat lokal memperoleh akses terhadap kesempatan kerja, pelatihan, dan pemberdayaan usaha sehingga manfaat investasi dapat dirasakan secara langsung.
“Blok Masela harus menjadi momentum peningkatan kualitas sumber daya manusia Maluku sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Tanimbar dan wilayah sekitarnya,” kata Hendrik. []











