Selama saya memimpin delegasi partai Golkar untuk melakukan kunjungan ke China, saya mendapatkan kesan yang sangat mendalam terhadap gaya kepemimpinan dan gaya hidup orang-orang di sana.
Kita tentu bisa berbicara mengenai kereta cepat, teknologi, kawasan industri, pertanian modern, dan pembangunan kota-kotanya. Banyak sekali hal-hal modern yang bisa kita nikmati di sana. Namun satu hal yang paling membekas bagi saya justru jauh lebih sederhana, yaitu bagaimana seorang pemimpin menempatkan dirinya di hadapan rakyat.
Saya melihat kesederhanaan masih dipandang sebagai bagian penting dari kepemimpinan. Berbeda sekali dan sangat lemot kontras melihat bagaimana ada ketimpangan yang saya rasakan di sini dan di sana. Orang yang memegang kekuasaan tidak sibuk memamerkan pakaian mahal, kendaraan mewah, jam tangan, kantor besar, atau rombongan panjang. Ukuran seorang pemimpin terletak pada berapa banyak rakyat yang kehidupannya berhasil ia perbaiki. Terlihat di dalam acara-acara formal hanya jas yang rapih dan seragam selayaknya pemimpin negara-negara sosialis.
Pesan Mao Zedong mengenai pelayanan kepada rakyat masih terasa kuat dalam perjalanan pembangunan China. Kekuasaan harus dipakai untuk memastikan rakyat memperoleh makanan, pakaian, tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan. Seorang pemimpin tidak patut hidup terlalu jauh di atas rakyat yang ia pimpin.
Pemikiran tersebut juga bertemu dengan ajaran Confucius mengenai manusia besar dan manusia kecil. Manusia besar mengejar kebenaran, kehormatan, serta tanggung jawab. Manusia kecil sibuk menghitung keuntungan pribadi dan mencari apa yang dapat ia nikmati dari kedudukannya. Kalau kita kontraskan antara sini dan sana, kita bisa melihat siapa yang besar dan siapa yang kecil.
Seseorang dapat mempunyai jabatan tinggi, gelar panjang, serta kekuasaan besar, tetapi tetap memiliki jiwa yang kecil. Hal itu terjadi ketika ia memakai kedudukannya untuk memperkaya diri, membesarkan keluarga, mencari pujian, dan menikmati fasilitas yang dibayar oleh rakyat. Jabatan ternyata tidak otomatis membuat seseorang menjadi terhormat. Bahkan beberapa orang-orang yang penting di negara ini dan yang terpandang justru memiliki keluarga yang kurang harmonis.
Laozi menyampaikan kritik yang lebih keras lagi. Ia menggambarkan penguasa yang hidup mewah sementara ladang rakyat terbengkalai dan persediaan makanan menipis. Menurutnya, kemewahan seperti itu tidak menunjukkan kebesaran pemimpin, melainkan memperlihatkan betapa kekuasaan telah kehilangan rasa malu.
Laozi juga memakai gambaran laut yang berada lebih rendah daripada sungai-sungai, tetapi justru menjadi tempat seluruh aliran berkumpul. Seorang pemimpin menjadi besar ketika ia bersedia merendahkan dirinya. Semakin tinggi jabatan seseorang, seharusnya semakin kecil keinginannya untuk dipuji dan semakin besar kesediaannya untuk melayani.
Pemikiran Mao, Confucius, dan Laozi memang lahir dari zaman yang berbeda. Namun ketiganya ini ibarat trisula yang tajam menancap ke relung-relung tapi masyarakat dan pemimpin di China. Trisula ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak boleh menjadi panggung untuk mempertontonkan kemegahan pribadi. Kekuasaan memperoleh kehormatan ketika rakyat merasa hidupnya lebih aman, lebih sehat, lebih kenyang, dan lebih bermartabat.
Pelajaran ini penting untuk direnungkan oleh para pejabat di Indonesia. Kesederhanaan tidak cukup diperlihatkan dengan sesekali makan di warung, mengenakan pakaian murah, atau berjalan di pasar sambil dikelilingi kamera. Kesederhanaan harus terlihat dari cara menggunakan uang negara, memilih fasilitas, menentukan perjalanan dinas, serta menempatkan kepentingan rakyat di atas kenyamanan pribadi.
Pejabat harus selalu ingat bahwa uang negara merupakan uang rakyat. Di balik satu pesta yang berlebihan, perjalanan yang terlalu mewah, atau fasilitas yang sebenarnya tidak diperlukan, terdapat kebutuhan rakyat yang mungkin harus ditunda. Bisa jadi uang itu seharusnya dipakai untuk sekolah, rumah sakit, rumah layak, jalan desa, air bersih, atau membantu keluarga yang kesulitan membeli makanan.
Saya juga memberikan penghargaan kepada seluruh anggota delegasi Partai Golkar yang mengikuti perjalanan ini dengan serius dan penuh disiplin. Mereka datang untuk belajar, melihat, mendengar, serta memahami pengalaman pembangunan Tiongkok. Perjalanan seperti ini harus menghasilkan pikiran baru yang dapat dibawa pulang untuk kepentingan partai, bangsa, dan rakyat Indonesia.
Partai Golkar harus terus melahirkan pemimpin yang kuat tanpa menjadi angkuh, berwibawa tanpa bermewah-mewahan, serta memiliki kekuasaan tanpa kehilangan hati. Rakyat tidak membutuhkan pejabat yang sibuk terlihat hebat. Rakyat membutuhkan pemimpin yang bekerja sampai mereka dapat hidup lebih baik.
Pada akhirnya, rakyat tidak peduli dengan harga pakaian pejabat, jenis kendaraan yang digunakan, atau seberapa megah kantornya. Rakyat hanya ingin anak-anak mereka dapat bersekolah, keluarga mereka dapat makan, orang sakit dapat berobat, dan mereka dapat bekerja dengan tenang.
Pemimpin besar tidak perlu bergaya besar, sebab pelayanan kepada rakyat sudah cukup untuk membesarkan namanya. Dan saya berharap banyak pemimpin yang bisa belajar kesederhanaan, kelemahlembutan dan kebijaksanaan walaupun harus ke negeri Cina.
Prof. Ali Mochtar Ngabalin
Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar
Ketua Delegasi Partai Golkar Kerjasama Indonesia – China {golkarpedia}











