ADA satu ungkapan yang sangat akrab di telinga umat. Sejak kecil kita mendengarnya dalam ceramah, pelajaran agama, percakapan keluarga, hingga nasihat para guru.
اُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
Uṭlubul ‘ilma walau biṣ–Ṣīn
“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”
Ungkapan tersebut begitu kuat melekat dalam kehidupan umat Islam. Para ulama memang memiliki catatan mengenai kekuatan jalur periwayatannya. Karena itu, kita perlu menyampaikannya secara hati-hati sebagai ungkapan populer yang sejak lama dinisbatkan kepada Rasulullah SAW.
Namun, pesan yang dikandungnya sangat terang. Ilmu harus dicari dengan sungguh-sungguh. Jarak yang jauh jangan dijadikan alasan. Perbedaan bangsa dan kebudayaan juga seharusnya tidak menghalangi seseorang untuk belajar.
Saya kembali mengingat kalimat tersebut ketika memimpin delegasi Partai Golkar berkunjung ke China. Kami datang memenuhi undangan International Department of the Communist Party of China atau IDCPC.
Salah satu agenda kami ialah mengikuti seminar di Hunan Academy of Governance, Provinsi Hunan. Di sana, para akademisi memaparkan perjalanan pembangunan China.
Kami mendengar penjelasan mengenai reformasi dan keterbukaan, modernisasi industri, pengembangan teknologi, serta perencanaan pembangunan yang dijalankan secara konsisten.
Saya harus katakan, pengalaman itu membuat ungkapan “tuntutlah ilmu walau sampai ke China” terasa sangat dekat.
China hari ini telah berkembang menjadi salah satu pusat pembelajaran dunia. Banyak negara datang untuk melihat cara mereka membangun industri, menyiapkan tenaga ahli, menghubungkan penelitian dengan produksi, lalu membawa hasilnya ke pasar global.
Dahulu, China menggambarkan negeri yang sangat jauh dari Jazirah Arab. Perjalanan menuju China memerlukan waktu panjang, tenaga besar, dan keberanian. Orang yang pergi mencari ilmu harus meninggalkan kenyamanan serta menghadapi banyak kesulitan.
Hari ini, pesawat membuat jarak terasa lebih pendek. Namun, semangat mencari ilmu tetap menuntut kerendahan hati. Kita harus bersedia mendengar, mengamati, lalu mengakui bahwa bangsa lain mungkin telah mengerjakan sesuatu dengan lebih maju. Inilah sikap yang perlu dijaga.
Orang berilmu tidak merasa dirinya telah selesai belajar. Semakin tinggi pengetahuannya, semakin luas pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang perlu dipahami. Dalam ajaran Islam, menuntut ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting.
Ada hadis yang berbunyi:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Talabul ‘ilmi farīḍatun ‘alā kulli Muslim.
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.”
Kewajiban tersebut tentu tidak berhenti pada kemampuan menghafal atau memperoleh gelar. Ilmu seharusnya menolong manusia memahami kehidupan, memperbaiki pekerjaan, dan memberi manfaat kepada masyarakat. Ilmu yang disimpan sebatas kebanggaan pribadi akan kehilangan daya gunanya.
China memperlihatkan bagaimana ilmu dapat diubah menjadi kekuatan negara. Hasil penelitian mereka masuk ke pabrik. Teknologi dikembangkan untuk meningkatkan produksi dan kualitas barang.
Perguruan tinggi terhubung dengan kebutuhan industri. Pemerintah memberi arah agar kemajuan teknologi ikut mendukung tujuan pembangunan nasional. Kita dapat melihat hasilnya melalui kereta cepat, kendaraan listrik, teknologi digital, energi baru, serta manufaktur canggih. Semua itu lahir dari proses belajar yang panjang.
Mereka mempelajari pengalaman bangsa lain, memperbaiki kelemahan sendiri, kemudian mengembangkan kemampuan nasionalnya.
Provinsi Hunan memberi contoh yang menarik. Presiden Xi Jinping mendorong Hunan menjadi pusat manufaktur, pusat inovasi teknologi, serta pusat reformasi dan keterbukaan.
Arahan tersebut kemudian diterjemahkan melalui kebijakan, investasi, pembangunan kawasan industri, dan konektivitas perdagangan. Hunan berada di wilayah pedalaman China. Letak tersebut tidak membuat mereka pasrah.
Pemerintah daerah membangun jalur perdagangan, mengembangkan zona perdagangan bebas, dan menghubungkan industri lokal dengan pasar internasional. Dari sana kita belajar bahwa kemajuan sangat bergantung pada cara suatu bangsa mengelola pengetahuan.
Sumber daya alam yang besar belum tentu menghasilkan kesejahteraan apabila teknologi pengolahannya dikuasai negara lain. Jumlah penduduk yang besar juga belum otomatis menjadi kekuatan apabila pendidikan dan keterampilannya tidak dipersiapkan.
Indonesia memiliki banyak alasan untuk percaya diri. Kekayaan alam kita sangat besar. Pasar domestik kita luas. Generasi muda Indonesia juga cepat mempelajari teknologi baru. Seluruh modal tersebut perlu diarahkan secara serius agar menghasilkan kemajuan yang dirasakan rakyat.
Semangat mencari ilmu mengajarkan kita untuk cerdas dalam memilih. Hal yang baik kita pelajari. Hal yang relevan kita sesuaikan. Bagian yang kurang cocok dapat kita tinggalkan melalui pertimbangan yang matang.
Perjalanan delegasi Partai Golkar ke China harus menghasilkan lebih dari dokumentasi dan cerita kunjungan. Pengetahuan yang kami peroleh perlu dibawa pulang. Pengalaman tersebut harus diterjemahkan menjadi gagasan dan kerja nyata bagi Indonesia.
Apa gunanya menempuh perjalanan jauh apabila pelajarannya berhenti di tempat seminar? Apa gunanya melihat pabrik canggih apabila kita pulang tanpa membawa semangat memperkuat industri nasional? Ungkapan “tuntutlah ilmu walau sampai ke China” mengajak kita melangkah keluar dari kenyamanan.
Dulu, China? Apa itu? Negara besar dengan jutaan masalah yang ada… Hari ini, China benar-benar berdiri sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Kami datang untuk melihat, mendengar, serta mempelajari pengalaman mereka dengan pikiran terbuka.
Setelah itu, tanggung jawab kita jauh lebih besar. Ilmu yang diperoleh harus dibawa pulang untuk memperkuat Indonesia, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan mempersiapkan bangsa menghadapi masa depan. [RM]
Oleh: Prof. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional











