Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo memberikan apresiasi kepada Pemerintah atas kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan harga khusus Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar sebesar Rp15.000 per liter bagi nelayan pemilik kapal berkapasitas 30 hingga 200 Gross Ton (GT).
Keputusan ini diambil dalam Rapat Terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor. Kebijakan itu diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap pelaku usaha perikanan.
Firman menilai kebijakan tersebut menjadi jawaban atas berbagai aspirasi yang selama ini disampaikan para nelayan, khususnya di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa. Ia mengungkapkan, persoalan tingginya harga Solar untuk kapal nelayan berukuran di atas 30 GT telah disuarakan para nelayan sejak beberapa bulan lalu saat dirinya menggelar kegiatan reses di Daerah Pemilihan Jawa Tengah III.
“Ini sudah sesuai dengan yang diharapkan para pelaku usaha nelayan. Sebelumnya saya menerima aduan langsung dari para nelayan di Desa Bendar, Kecamatan Juwana, yang diwakili Saudara Purnomo, serta para paguyuban nelayan di Desa Banyutowo, Kabupaten Pati,” ujar Firman di Kompleks DPR RI, Jumat (11/7/2026).
Pada 12 Mei 2026, Firman menerima langsung keluhan dari para nelayan di Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Saat itu, nelayan yang diwakili Purnomo mengeluhkan harga Solar non-subsidi yang mencapai sekitar Rp30.000 per liter sehingga membuat biaya operasional melaut melonjak tajam. Untuk sekali melaut, kapal berukuran di atas 30 GT membutuhkan sekitar 5.000 hingga 10.000 liter Solar. Dengan harga tersebut, biaya BBM saja dapat mencapai Rp150 juta hingga Rp300 juta dalam satu kali pelayaran
Politisi senior Partai Golkar itu menilai, penetapan harga BBM khusus akan memberikan ruang bagi nelayan untuk menekan biaya operasional sehingga aktivitas melaut dapat kembali bergairah.
“BBM adalah urat nadi nelayan. Dengan harga yang lebih terjangkau ini, biaya operasional akan turun sehingga nelayan dapat lebih semangat melaut. Pada akhirnya, kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para nelayan sekaligus memperkuat produktivitas sektor perikanan nasional,” tegas Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI ini.
Tegaskan Pentingnya Pengawasan Ketat
Meski menyambut baik kebijakan tersebut, Firman mengingatkan pemerintah agar pelaksanaannya di lapangan diawasi secara ketat sehingga benar-benar dinikmati oleh nelayan yang berhak.
Menurut Firman yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum bidang politik KADIN Indonesia, selisih harga yang cukup besar antara Solar khusus nelayan dan harga pasar berpotensi memicu penyalahgunaan apabila tidak disertai sistem pengawasan yang efektif.
“Dengan adanya disparitas harga yang cukup besar, kami khawatir BBM untuk nelayan ini justru dijual kembali kepada industri non-nelayan. Karena itu, para nelayan juga harus ikut mengawasi agar bantuan pemerintah ini benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.
Firman juga meminta pemerintah bersama aparat penegak hukum memperkuat pengawasan, terutama di kawasan Pantura yang selama ini kerap menjadi lokasi praktik penyalahgunaan distribusi Solar bersubsidi maupun aktivitas mafia BBM.
“Saya minta ada sanksi seberat-beratnya bagi siapa pun yang melanggar. Jangan sampai ada oknum aparat penegak hukum maupun oknum pengelola SPBU yang bekerja sama dengan mafia BBM. Praktik seperti ini harus diberantas secara tegas agar kebijakan pemerintah tidak diselewengkan,” kata legislator asal Pati, Jawa Tengah ini.
Di akhir keterangannya, Firman kembali menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran pemerintah atas kebijakan yang dinilainya berpihak kepada masyarakat nelayan.
“Ini adalah bukti nyata kepedulian Pemerintah Presiden Prabowo terhadap rakyat kecil yang menggantungkan hidupnya dari laut. Kami di DPR RI akan terus mengawal pelaksanaan kebijakan ini agar benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan nelayan Indonesia,” pungkas Firman Soebagyo. {golkarpedia}











