FOSTA Fraksi Partai Golkar dan BRIN Gelar Workshop AI Untuk TAA-SAA, Hetifah Hadir Jadi Pembicara

UNTUK peningkatkan SDM para tenaga ahli dan staf administrasi Anggota DPR RI. Pengurus Forum Staf Anggota (FOSTA) Fraksi Partai Golkar DPR RI, bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar workshop Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi Untuk Masyarakat (PKPRIM).

Workshop tersebut bertajuk, “Pemanfaatan Teknologi Artificial Intelligence untuk Mendukung Kerja Profesional Tenaga Ahli DPR RI”. Hadir sebagai keynote speech Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dr. Hetifah Sjaifudian. Selanjutnya, narasumber menghadirkan Wim Tohari Daniealdi dan Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja, serta dimoderatori oleh Taufiq Saifuddin.

Hetifah memaparkan, Tenaga Ahli DPR RI merupakan ‘mesin intelektual’ dan penguat kualitas argumentasi dan posisi politik anggota dan fraksi yang didampinginya. Sehingga, TA juga memiliki fungsi dalam penyusunan bahan rapat seperti, RDP, Raker, RDPU dan lainnya.

“Sejatinys, TA juga punya fungsi membantu para anggota DPR dalam analisis RUU dan kebijakan sektoral. Terus, penyusunan naskah pidato, poin bicara,dan policy brief. Pengolahan aspirasi masyarakat & konstituen. Monitoring isu publik & media serta pendampingan fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran,” jelas Hetifah di Kimaya Hotel Jakarta, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, untuk mempermudah dan mempercepat kinerja para TA, AI dibutuhkan sebagai sistem yang mampu membaca dan merangkum dokumen. Sebab, lanjutnya, AI memiliki sistem yang mampu mengolah data besar shingga membantu penulisan dan analisis yang diperlukan anggota dewan.

Hetifah menambahkan, AI dapat menyajikan inti informasi secara cepat, sehingga kita langsung fokus ke poin penting tanpa harus membaca semuanya. AI juga dapat membantu menganalisis data dalam jumlah besar untuk menemukan pola dan insight, yang membantu pengambilan keputusan lebih berbasis data.

“AI juga membantu kita menyusun draft awal, merapikan argumen, sehingga kita bisa fokus pada penguatan substansi. Tapi harus dicatat, AI tidak menggantikan peran manusia, tapi memperkuat kualitas analisis dan pengambilan keputusan, AI tidak dapat menggantikan judgment politik—tapi memperkuatnya,” ungkap Hetifah.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum FOSTA Fraksi Partai Golkar DPR RI, Nur Wahyu Satrio Wibowo mengungkapkan, pemanfaatan AI oleh TA akan sangat membantu memperkuat kualitas keputusan DPR melalui analisis yang lebih cepat, akurat, dan berbasis data.

“Paling tidak pemanfaatan AI oleh para TA dan SA dapat membantu di 3 fungsi utama anggota dewan. Membantu analisis program pemerintah dan efektivitas kebijakan (fungsi pengawasan). Mengolah data anggaran dan program secara lebih komprehensif (fungsi anggaran). Mendukung telaah RUU secara lebih cepat dan sistematis (fungsi legislasi),” ungkap Satrio.

Satrio menyoroti pola integrasi AI dalam alur kerja TA dan SA. Paling tidak, ungkapnya, pemanfaatan AI, para TA dan SA dapat memulai dengan riset awal, dengan melakukan penelusuran isu dan pengumpulan referensi secara lebih cepat.

Selanjutnya, kata Satrio, adalah proses analisis, dimana pemetaan isu kunci dan penguatan basis data dilakukan. Setelah itu, penyusunan bahan, yakni drafting poin rapat, policy brief, dan naskah.

“Setelah itu kita lakukan review dan penyempurnaan, yaitu perapian struktur, bahasa, dan konsistensi. Terakhir kita akan dapatkan output akhir, dimana bahan yang akan kita berikan kepada anggota dewan jadi lebih siap pakai dan tepat waktu,” pungkas Satrio. []

Leave a Reply