KETIKA seseorang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya sebagai peziarah di dunia ini, kita wajib mengenang kebaikan mereka yang pernah kita terima.
Saya menulis tentang Prof. Dr. H. Bachtiar Aly, M.A. sebagai seorang murid dibimbing langsung oleh beliau. Saya tidak sedang menyusun riwayat hidup resmi dan tidak pula ingin menempatkan beliau sebagai manusia yang selalu benar. Saya hanya ingin menceritakan seorang guru yang memberi pengaruh besar dalam perjalanan pendidikan dan pengabdian saya.
Prof. Bachtiar Aly berpulang pada 26 Juli 2026. Saya hadir dalam pemakaman almarhum. Suasananya tenang, khidmat, dan sangat sederhana. Tidak sampai 100 orang mengantarkan beliau menuju tempat peristirahatan terakhir.
Bagi saya, keadaan itu terasa mengganjal sedikit di hati, sehingga membuat saya menuliskan ini, ketika saya sedang mengenang seorang tokoh dan guru bangsa, seorang pakar komunikasi, mantan anggota DPR RI, diplomat, guru besar, dan tokoh organisasi pergi tanpa berita besar di media massa. Banyak murid, sahabat, dan kolega bahkan tidak mengetahui bahwa beliau sedang sakit.
Barangkali, ya barangkali… Begitulah cara beliau menjalani hari-hari terakhirnya. Sakitnya tidak banyak diceritakan. Beliau tidak mengabari banyak orang. Sepertinya beliau tidak ingin merepotkan orang dekatnya.
Saya mengenal Prof. Bachtiar Aly melalui banyak perjumpaan. Hubungan kami bermula sebagai dosen dan mahasiswa ketika saya mengambil Program Magister Ilmu Komunikasi UI. Seiring waktu, hubungan itu berkembang menjadi hubungan seorang abang, guru, senior, dan adik.
Selama menjalani studi, beliau berkali-kali mendorong saya agar segera menyelesaikan program magister. Setelah selesai, beliau juga terus mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral.
Dorongan semacam itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Bagi seorang murid, perhatian dari guru sering kali menjadi tenaga tambahan ketika niat sedang lesu dan semangat sedang kendur.
Prof. Bachtiar Aly juga banyak memberi kiat mengenai komunikasi, hubungan internasional, dan cara membangun relasi. Beliau memahami bahwa relasi tidak dibangun hanya melalui pertukaran kartu nama atau pertemuan seremonial.
Salah satu kenangan yang paling melekat terjadi saat saya berada di Busan, Korea Selatan. Setelah saya dikukuhkan sebagai Guru Besar Hubungan Intwenasional di Busan University of Foreign Studies (BUFS), orang pertama yang menelepon saya adalah Prof. Bachtiar Aly. Katanya melalui saluran telepon “Adinda, abang bangga sungguh luar biasa anda. Selamat ya adinda Professor Ngabalin, kapan balik? dan kita harus berjumpa ya, sekali lagi selamat dik, paten lah dinda”
Di atas pusaran saat pemakaman kalimat ini selalu berdenging di kuping saya tidak terbendung air mata terus mengalir seraya berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar mudahkan perjalanan Prof. Bachtiar Aly menuju keharibaan Yang Maha Agung.
Saya masih mengingat telepon itu. Seorang guru mengikuti perjalanan muridnya, lalu memberi ucapan ketika murid tersebut mencapai salah satu tahap penting dalam hidupnya. Perhatian semacam itu terasa sederhana, namun sulit dilupakan.
Kedekatan kami juga dipertemukan melalui Pelajar Islam Indonesia (PII). Almarhum Kak Dr. Mansyur Semma dan Bang Darlis Muhammad kedua beliau adalah senior dan Instruktue saya waktu sama-sama di PII Sulawesi Selatan, beliau berdualah yang memperkenalkan saya kepada Prof. Bachtiar Aly. Ketika itu saya masih menjalankan amanah di Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB. PII), Jalan Menteng Raya Nomor 58, Jakarta Pusat, sebagai Ketua Bidang Luar Negeri.
Setelah mengetahui saya kader PII dan berasal dari daerah Irian Jaya sekarang Papua, hubungan kami semakin dekat. Prof. Bachtiar Aly memberi perhatian besar kepada semua anak-anak daerah. Beliau memahami bahwa banyak anak daerah memiliki kemampuan, namun sering kekurangan akses, jaringan, dan orang yang bersedia membuka pintu.
Saya mengalami sendiri perhatian tersebut.
Ketika beliau menjadi Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), saya dimasukkan ke dalam kelompok kerja luar negeri. Dalam beberapa kesempatan, saya juga diminta mewakili beliau menghadiri kegiatan komunitas ilmu komunikasi.
Kepercayaan itu sangat berarti. Seorang guru kadang mengajarkan lebih banyak melalui tanggung jawab daripada melalui ceramah di kelas. Murid diberi kesempatan, dipercaya membawa nama organisasi, lalu belajar mempertanggungjawabkan kepercayaan tersebut.
Saat saya maju sebagai calon Ketua Umum Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) di Aceh, Prof. Bachtiar Aly juga memberikan dukungan. Beliau menghubungi banyak anak-anak masjid di Aceh. Saya tidak pernah melupakan kesediaannya membantu seorang adik yang sedang berjuang dalam organisasi.
Perjalanan kami kembali bertemu di Partai Golkar. Beberapa kali beliau hadir sebagai seorang pakar komunikasi sebagai pembicara dan sungguh beliau selalu merasa menjadi bagian dari keluarga besar Partai Golkar dan dikenal sebagai sosok yang menjaga martabat dalam kehidupan politik. Kami juga sama-sama menjadi bagian dari keluarga besar Komisi I DPR RI.
Ketika Prof. Bachtiar Aly menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, sayapun selalu berkomunikasi selain sebagai anggota komisi I sebagai murid saya harus dan terus mengikuti perkembangan beliau di Mesir.
Saya benar-benar mengenal Prof. Bachtiar Aly sebagai akademisi yang memahami komunikasi sekaligus memiliki pengalaman dalam urusan politik luar negeri.
Kami kemudian kembali dipertemukan sebagai penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan ketika kementerian tersebut dipimpin Bapak Dr. H. Edhy Prabowo. Dalam berbagai kesempatan, saya melihat cara beliau menyampaikan pandangan dengan tenang. Beliau tidak perlu meninggikan suara untuk menunjukkan keluasan pengalaman.
Seluruh perjumpaan itu membuat kepergian Prof. Bachtiar Aly terasa sangat pribadi bagi saya. Saya kehilangan seseorang yang pernah mengajar saya di kampus, memberi kesempatan di organisasi, mendukung perjalanan pendidikan saya, serta mengikuti perkembangan saya hingga menjadi guru besar.
Saya sempat bertanya dalam hati mengapa seorang tokoh dengan pengabdian panjang seperti beliau tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Saya tidak mengetahui pertimbangan yang melatarbelakanginya. Pertanyaan saya murni muncul sebagai ungkapan seorang murid yang merasa gurunya telah memberi banyak hal kepada negara dan masyarakat.
Namun penghormatan kepada seseorang tidak berhenti pada lokasi pemakamannya. Penghormatan hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah menerima ilmu, pertolongan, perhatian, dan kepercayaannya.
Bachtiar Aly pergi tanpa keramaian besar. Media massa tidak banyak memberitakan kepergiannya. Jumlah orang yang hadir di pemakaman juga tidak mencerminkan panjangnya perjalanan hidup dan luasnya pergaulan beliau.
Mungkin banyak orang baru mengetahui kabar kepergiannya setelah seluruh prosesi selesai. Mungkin pula banyak murid yang menyesal karena tidak sempat mengucapkan salam terakhir.
Saya termasuk orang yang beruntung pernah mengenal beliau dari dekat. Saya pernah menjadi muridnya, adiknya di lingkungan PII, rekannya dalam sejumlah penugasan, serta orang yang beberapa kali menerima kepercayaan darinya.
Saya tentu tidak mengenal seluruh sisi kehidupannya. Saya juga tidak hendak mengatakan bahwa beliau tidak pernah memiliki kekurangan. Kesaksian saya sederhana. Dalam perjalanan hidup saya, Prof. Bachtiar Aly telah menjadi guru yang memberi ilmu, perhatian, dorongan, dan kesempatan.
Kini perjalanan itu telah selesai.
Selamat jalan, Pak Dosen.
Selamat jalan, abangku.
Selamat jalan, guruku.
Prof. Dr. H. Bachtiar Aly, M.A.
Terima kasih atas ilmu dan kepercayaan yang pernah diberikan. Saya bersaksi, selama mengenalmu sebagai murid dan adik, banyak kebaikan yang saya terima darimu. []
Oleh: Prof. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si, Mahasiswa Program Pascasarjan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) angkatan 1996/Alumni Komunikasi Pernyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Aluddin Ujung Pandang angkatan 1994/Guru Besar Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan 2024 hingga sekarang/Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Luar Negeri dan Hubungan Internasional 2024-2029











