FOSTA Fraksi Partai Golkar DPR Hadirkan Shoim Haris Bahas Entropi dan Paradoks Pembangunan Indonesia

PENGURUS Forum Staf Anggota (FOSTA) Fraksi Partai Golkar DPR RI kembali menggelar FOSTA Discussion Session (FDS) Volume-4. Dalam diskusi kali ini diberi tajuk “Menjaga Stabilitas Politik di Tengah Konsentrasi Ekonomi. Hadir sebagai pembicara, Wasekjen DPP Partai Golkar, M Shoim Haris.

Menurut Shoim, belakangan ini Indonesia mengalami semacam paradoks dalam pembangunannya. Terjadi fenomena kontradiktif, misalnya pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan dan rasio gini dengan pangsa pendapatan Masyarakat.

“Seperti sekarang inikan, pertumbuhan ekonomi kita terlihat stabil 4,8%–5,0% (data 2026), kemiskinan turun ke titik terendah (8,47%, Maret 2025), rasio gini kita membaik (0,363, Sept 2025). Tapi kan, pangsa pendapatan kita hanya berhenti diangka 10% teratas dari populasi yang bisa menikmati 46,86% total pendapatan,” kata Shoim di Gedung DPR RI, Kamis (21/5/2026).

Dalam membaca realitas hari ini, Shoim membandingkan dua fenomena politik di Indonesia dan Vietnam. Shoim menjelaskan, Indonesia memiliki energi yang besar seperti sumber daya alam, populasi muda, posisi strategis. Namun narasi informasinya dianggap masih kacau.

Shoim menambahkan, di Indonesia, praktek hukum masih sering tumpang tindih, birokrasi berbelit, penegakan hukum yang tidak konsisten. Akibatnya, entropinya (kekacauan dalam suatu system) tinggi.

“Terjadilah korupsi yang sistemik, polarisasi yang menguras energi, biaya transaksi yang membebani rakyat kecil. Kesadaran kolektif terfragmentasi. Tidak ada visi bersama yang membakar semangat. Evolusinya lambat, kita mengulang kesalahan yang sama, dari reformasi yang setengah hati hingga program pembangunan yang mandek di tengah jalan,” papar Shoim.

Sementara, kata Shoim, Vietnam, memiliki energi awal yang lebih rendah, namun memilih jalan yang berbeda. Negara itu berani menekan entropi dengan menyederhanakan birokrasi, memberantas korupsi secara sistemik, membuka diri pada perdagangan global.

“Kita bisa lihat, Vietnam hari ini sebaran informasinya dibangun ulang: hukum yang lebih jelas, pendidikan yang merata, investasi dalam inovasi. Kesadarannya terjaga, para pemimpin tahu ke mana arah yang harus dituju, dan rakyat ikut bergerak. Vietnam belajar cepat dari kegagalan perang, dari kesuksesan tetangga, dari perubahan global. Hasilnya, Vietnam melompat. Indonesia berjalan di tempat,” jelas Shoim penuh semangat.

Senada dengan penjelasan Shoim, Ketua Umum FOSTA, Nur Wahyu Satrio Wibowo menambahkan, untuk mengurai problem diatas, penting membangun kesadaran. Bagi Satrio, kesadaran yang dimaksud bukan gelembung yang muncul dari aktivitas saraf tanpa daya ubah, terutama bagi generasi muda FOSTA.

“Kesadaran ini maksudnya kemampuan suatu sistem untuk menatap dirinya sendiri, membaca kelemahannya sendiri, memilih di antara kemungkinan-kemungkinan sehingga dapat lahir perubahan,” tambah Satrio.

Dengan kata lain, sambung Satrio, tanggung jawab bukanlah konsep moral belaka. “Jadi kalau generasi FOSTA tidak memiliki kesadaran, berarti membiarkan kekacauan menang. Dan itu artinya ia berhenti belajar untuk terus bertumbuh,” pungkasnya. []

Leave a Reply