MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Indonesia sama sekali tidak melakukan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Timur Tengah (Middle East). Hal itu diutarakannya dalam Sidang Kabinet Paripurna bersama Prabowo Subianto pada Jumat (13/3/2026) kemarin.
“Kami juga melaporkan bahwa yang kita impor sebenarnya dari Middle East itu apa. Kita tidak melakukan impor produk jadi dari Middle East,” tegas Bahlil, dikutip Sabtu (14/4/2026), dari Liputan6.
Bahlil menjelaskan, stok energi yang didatangkan dari Timur Tengah adalah dalam bentuk minyak mentah (crude oil) dengan alokasi sekitar 20 persen dari total impor. Sementara BBM impor lebih banyak didatangkan dari Afrika hingga Malaysia.
“Nah yang kita impor dari Middle East itu adalah crude-nya. Jadi minyak mentahnya itu 20 persen memang dari Middle East. Sisanya kita dapat dari Angola, Nigeria, Brazil kemudian sebagian Amerika, sebagian dari Malaysia,” ungkapnya.
Sementara untuk BBM jenis bensin yang Indonesia impor kebanyakan berasal dari negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia.
Indonesia disebutnya juga sudah mendapatkan negara pengganti Timur Tengah sebagai importir minyak, yakni Amerika Serikat (AS). Meskipun proses pengirimannya akan lebih panjang dibanding dari negara-negara Arab.
“Memang tantangannya adalah kalau dari Amerika lebih lama 40 hari, kalau dari Middle East itu 2 sampai 3 minggu. Tetapi sekarang kita bikin kontrak jangka panjang, itu kira-kira yang kita lakukan,” kata Bahlil.
Stok BBM dan LPG Aman di Lebaran
Pada kesempatan sama, Bahlil mengklaim bahwa stok energi Indonesia jelang Lebaran 2026 berada di atas standar minimum. Itu berlaku baik untuk produk BBM seperti Pertalite (RON 92), Pertamax (RON 92), Solar (CN 48), hingga stok LPG.
Semisal untuk Pertalite, dengan ketahanan stok lebih tinggi dari batas minimum 18,2 hari. “Jadi untuk pertalite, RON 90 ini yang bensin subsidi, itu cadangan kita adalah 24,39 hari. Melampaui batas minimal dari apa yang direncanakan oleh nasional kita,” ungkapnya.
Tak hanya Pertalite, BBM jenis gasoline lain seperti Pertamax dan Pertamax Turbo (RON 98) bahkan punya stok untuk jangka waktu lebih panjang.
Untuk Pertamax, Bahlil bilang ketahanan stok nasional mencapai 28,75 hari, lebih tinggi daripada batas minimum 19,9 hari. Sedangkan Pertamax Turbo dilaporkan memiliki stok hingga mencapai 31,32 hari, lebih tinggi dari batas minimum 22,3 hari.
Sementara untuk Solar subsidi, kapasitas cadangan nasional mencapai 16,41 hari atau sedikit lebih tinggi dari batas minimum 16,3 hari. “Jadi melampaui juga batas minimal dari cadangan nasional,” imbuh Bahlil.
Di sisi lain, BBM jenis gasoil lain yakni Pertamina Dex (CN 53) memiliki ketahanan stok 46,05 hari, di atas batas minimum 24,9 hari. Sedangkan minyak tanah memiliki ketahanan stok 23,15 hari.
Adapun ketahanan stok gas minyak bumi cair atau LPG secara nasional sebesar 15,66 hari, lebih tinggi daripada batas minimum 11,4 hari.
“Jadi kami laporkan kepada Bapak Presiden, Bapak Wapres, bapak/ibu semua, cadangan menjelang hari raya untuk semua BBM dan LPG Insya Allah aman,” kata Bahlil. []











