Anggota Badan Legislasi DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo, menyoroti fenomena pergeseran nilai pada generasi muda Indonesia di tengah arus globalisasi yang kian deras. Hal itu disampaikannya saat menjawab pertanyaan dalam diskusi di Pontianak, Kalimantan Barat, di sela kunjungan kerja terkait RUU Satu Data.
Firman menilai, ada kegelisahan nyata dari kalangan orang tua dan pendidik terhadap generasi yang secara akademik unggul, namun dinilai mulai kehilangan pijakan nilai kebangsaan.
“Ini keresahan yang nyata. Anak-anak kita pintar, sekolah sampai luar negeri, tapi akar budayanya mulai copot. Mereka tidak lagi memahami gotong royong, bahkan tidak tahu kenapa Pancasila lahir sebagai dasar negara,” ujar Firman.
Ia menegaskan, persoalan ini tidak bisa dijawab dengan pendekatan normatif semata, melainkan harus dibedah secara jujur untuk menemukan akar masalahnya.
Menurut Firman, salah satu penyebab utama adalah ketidakseimbangan antara pendidikan global dan pemahaman konteks lokal. Generasi muda, kata dia, dibekali kemampuan berpikir kritis dan individualisme, namun tidak diajarkan bagaimana mengintegrasikan nilai tersebut dengan budaya musyawarah dan kekeluargaan khas Indonesia.
“Anak-anak kita pulang dengan cara berpikir global, tapi tidak pernah diajarkan bagaimana menyambungkan itu dengan nilai lokal. Akhirnya terjadi benturan. Mereka melihat sistem sosial kita sebagai tidak efisien, padahal di situ ada nilai kebersamaan,” jelasnya.
Firman juga mengkritik metode pembelajaran sejarah yang dinilai terlalu dangkal dan hanya menekankan kronologi tanpa makna.
“Sejarah kita diajarkan seperti hafalan. Padahal yang penting itu bukan tanggalnya, tapi kenapa para pendiri bangsa memilih Pancasila, bukan ideologi lain. Di situ ada perjuangan, ada kompromi, ada darah,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai tantangan ideologi saat ini semakin berat karena harus berhadapan dengan algoritma digital yang lebih menarik bagi generasi muda.
“Pancasila itu butuh perenungan, sementara media sosial memberi kepuasan instan setiap detik. Ini pertarungan narasi yang tidak seimbang, dan negara belum benar-benar hadir di ruang batin generasi muda,” katanya.
Meski demikian, Firman mengingatkan agar publik tidak terburu-buru memberi label negatif terhadap generasi muda. Ia justru melihat adanya bentuk nasionalisme baru yang muncul dengan cara berbeda.
“Mereka bukan tidak nasionalis. Mereka hanya mengekspresikannya dengan cara berbeda. Mereka bicara kemanusiaan, keadilan sosial, bahkan lewat teknologi dan advokasi global. Nilainya masih ada, hanya tampilannya yang berubah,” ujarnya.
Firman menilai, kemampuan global generasi muda justru merupakan aset strategis bagi bangsa di era modern.
“Kalau dulu kita berjuang dengan bambu runcing, sekarang kita butuh anak-anak yang menguasai AI, hukum internasional, dan ekonomi global. Itu senjata baru untuk menjaga kedaulatan negara,” tegasnya.
Ia kemudian memaparkan tiga kemungkinan arah masa depan Indonesia, tergantung bagaimana bangsa ini merespons kondisi tersebut.
“Skenario terburuk adalah kita punya generasi pintar, tapi kehilangan ‘rasa Indonesia’. Keputusan diambil tanpa mempertimbangkan nilai lokal. Negara bisa maju secara ekonomi, tapi kosong secara batin,” katanya.
Skenario kedua, menurut Firman, adalah munculnya kesenjangan antara kelompok elite global dengan masyarakat akar rumput. “Kalau ini terjadi, kita akan punya Indonesia yang terbelah. Yang satu hidup di menara gading, yang lain hanya jadi penonton,” ujarnya.
Namun, ia optimistis ada skenario terbaik yang bisa dicapai, yaitu terciptanya sintesis antara kemampuan global dan nilai lokal.
“Yang kita butuhkan adalah generasi yang modern dalam alat, tapi tetap Indonesia dalam jiwa. Mereka yang bisa pakai teknologi untuk memperkuat budaya dan keadilan sosial,” tegas Firman.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menekankan pentingnya kehadiran negara yang lebih konkret, terutama dalam pendidikan nilai kebangsaan. “Pancasila harus dijadikan alat analisis, bukan sekadar hafalan. Harus dibedah dalam kasus nyata, supaya relevan dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.
Selain itu, Firman juga mendorong adanya program yang menghubungkan generasi muda dengan realitas sosial di daerah, termasuk bagi penerima beasiswa luar negeri.
“Jangan langsung dikirim ke luar negeri tanpa ‘rasa Indonesia’. Mereka harus mengalami dulu kehidupan masyarakat di daerah, supaya punya empati dan keterikatan,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan generasi tua agar tidak hanya menyalahkan, tetapi ikut membangun jembatan nilai bagi generasi muda. “Jangan cuma ceramah. Kasih ruang, kasih tantangan nyata. Biarkan mereka menemukan sendiri makna kebangsaan lewat karya dan pengalaman,” tegasnya.
Firman menutup pernyataannya dengan nada yang lebih reflektif, menekankan bahwa persoalan generasi muda bukanlah soal kurangnya nasionalisme, melainkan kegagalan sistem dalam menghadirkan ruang perjumpaan antara nilai global dan jati diri kebangsaan.
Ia mengingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa intervensi yang serius, Indonesia berisiko melahirkan generasi unggul secara intelektual namun terputus dari akar sosial dan budaya yang menjadi fondasi bangsa.
“Generasi muda kita bukan kurang Indonesia. Mereka hanya belum dijemput. Kita terlalu sibuk menuntut mereka memahami bangsa ini, tapi lupa menyediakan jembatan agar mereka bisa terhubung dengan identitasnya sendiri,” tegas Firman. {golkarpedia}











