Singgih Januratmoko Minta Evaluasi Haji 2026 Berujung Perbaikan Tata Kelola dan Layanan Jemaah

WAKIL Ketua Komisi VIII DPR Singgih Januratmoko memberikan catatan terkait pelayanan haji di Mina pada 2026. Ia menjelaskan, persoalan di kawasan Mina hingga kini masih menjadi tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji dari tahun ke tahun.

Keterbatasan kapasitas lahan untuk menampung jutaan jemaah dalam waktu bersamaan menjadi tantangan yang harus dicari solusinya.

“Selama kapasitas kawasan ini tetap terbatas, sementara jumlah jemaah dunia terus meningkat, maka dibutuhkan inovasi tata kelola yang lebih adaptif,” ujar Singgih dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026), dikutip dari Kompas.

“Indonesia perlu terus memperjuangkan penambahan kapasitas layanan, optimalisasi penempatan tenda, serta penguatan sistem manajemen pergerakan jemaah berbasis data digital,” sambungnya.

Di samping itu, Komisi VIII juga memberikan catatan terhadap skrining kesehatan atau istitha’ah bagi calon jemaah sebagai bagian penting dalam penyelenggaraan haji. Menurut Singgih, persyaratan istitha’ah kesehatan harus dimaknai sebagai upaya melindungi keselamatan jemaah, bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi.

Oleh karena itu, ia mendukung rencana Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) untuk memberikan pembinaan kesehatan kepada calon jemaah sejak jauh sebelum keberangkatan. Melalui pembinaan tersebut, calon jemaah diharapkan memiliki waktu yang memadai untuk meningkatkan kondisi kesehatan.

“Ibadah haji merupakan ibadah fisik yang sangat berat. Karena itu, penerapan istitaah harus benar-benar menjadi instrumen perlindungan terhadap jemaah, bukan sekadar formalitas administrasi,” jelasnya.

Komisi VIII DPR, kata Singgih, akan terus menjalankan fungsi pengawasan agar seluruh hasil evaluasi penyelenggaraan haji 2026 benar-benar ditindaklanjuti menjadi kebijakan yang konkret.

“Evaluasi penyelenggaraan haji 2026 bukan sekedar identifikasi masalah, tapi juga harus menghadirkan perbaikan sistem berupa tata kelola haji Indonesia yang profesional, adaptif, berorientasi pada keselamatan, serta mampu menjadi salah satu model pelayanan haji terbaik di dunia,” ujar Singgih. []

Leave a Reply