Mendukbangga Wihaji Ingatkan Peran Keluarga, 8 Fungsi Ini Dinilai Ampuh Lindungi Anak dari Kekerasan

KEMENTERIAN Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyatakan penguatan delapan fungsi keluarga dapat mencegah kekerasan seksual karena menjadi benteng ketahanan bagi anak atau orang tua di masyarakat.

Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji menyatakan, Kemendukbangga/BKKBN berwenang dan bertanggung jawab terhadap pembangunan keluarga untuk hadir atas berbagai permasalahan yang berpotensi membawa masalah tentang ketahanan keluarga, seperti penggunaan teknologi yang tidak tepat.

“Contoh, pelecehan seksual verbal yang terjadi di salah satu perguruan tinggi, sumbernya pasti juga dari teknologi handphone. Ini salah satu contoh yang jika tidak kita perhatikan dan terjadi pembiaran serta dianggap normal, maka hal seperti ini bisa terjadi di manapun dan kapanpun. Kita perlu kembali mengampanyekan delapan fungsi keluarga,” ujar dia dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (19/4/2026).

Sebagai upaya menuju keluarga yang terencana, sehat, dan berkualitas melalui pendekatan siklus hidup untuk memperbaiki perilaku, maka pendekatan yang dilakukan tidak hanya rasional, tetapi membutuhkan pendekatan dari hati.

“Kita perlu kembali mengampanyekan fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan. Perlu dilakukan percepatan pelayanan yang berkenaan dengan delapan fungsi keluarga dan nantinya akan banyak edukasi yang akan disampaikan oleh tenaga lini lapangan, khususnya Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB),” tuturnya, dikutip dari Antaranews.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Wahyuniati menyampaikan, Kemendukbangga/BKKBN memperkuat delapan fungsi keluarga tersebut salah satunya melalui Gerakan dalam Mendorong Perubahan Perilaku Masyarakat Untuk Menuju Indonesia Tangguh melalui Pendekatan 8 Fungsi Keluarga (Gempita Lentera Keluarga), yang melingkupi kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi keluarga.

Kegiatan tersebut berbasis siklus kehidupan terkait kesehatan, pengasuhan, dan relasi setara, pelatihan kader sebagai agen perubahan perilaku, pendampingan keluarga sasaran, serta penguatan lingkungan sosial.

“Strategi pendekatan yang dilakukan dalam Gempita Lentera Keluarga antara lain pendekatan perubahan perilaku bertahap, pendekatan berbasis keluarga dan komunitas, penguatan delapan fungsi keluarga di masyarakat, partisipatif dan kontekstual budaya lokal, serta kolaborasi lintas sektor,” ucap Wahyuniati. []

Leave a Reply