WAKIL Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengajak penguatan konektivitas ekonomi lintas kawasan dalam forum bisnis internasional di Uzbekistan.
Menurut Wamendag, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (19/6/2026), pentingnya memperkuat kolaborasi ekonomi di tengah dinamika dan ketidakpastian global yang terus berkembang.
Mengutip Presiden Prabowo Subianto, Roro Esti menyampaikan Indonesia memegang prinsip bahwa “seribu teman masih terlalu sedikit, sementara satu musuh sudah terlalu banyak”.
Prinsip tersebut menjadi landasan untuk terus membangun kemitraan dan memperluas kerja sama dengan berbagai negara di dunia.
“Karena itu, Indonesia terus mendorong keterlibatan yang aktif dengan berbagai negara dan kawasan melalui kerja sama perdagangan, investasi, dan kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan,” ujar Wamendag dalam forum yang diselenggarakan Kadin Uzbekistan di Tashkent, Uzbekistan, Selasa (16/6/2026).
Forum bertajuk “From Uzbekistan to the Gulf and Beyond: Trade Opportunities Business Forum” tersebut menjadi wadah strategis yang mempertemukan para menteri dan wakil menteri yang membidangi perdagangan dan ekonomi, pimpinan kamar dagang, serta pelaku usaha dari berbagai negara untuk membahas peluang penguatan perdagangan dan investasi lintas kawasan.
Kehadiran berbagai pemangku kepentingan dari kawasan Asia Tengah, Timur Tengah, dan Asia Tenggara itu menunjukkan semakin kuatnya komitmen untuk membangun konektivitas ekonomi dan memperluas kerja sama perdagangan antarwilayah.
Menurut Wamendag, pendekatan Indonesia tersebut menjadi semakin relevan di tengah berbagai tantangan global saat ini.
RI meyakini bahwa penguatan dialog, kerja sama ekonomi, dan konektivitas perdagangan antarnegara merupakan kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Wamendag menilai Uzbekistan memiliki posisi strategis sebagai penghubung Indonesia dengan kawasan Asia Tengah yang semakin berkembang.
Kesamaan semangat untuk memperluas kerja sama ekonomi, didukung oleh kedekatan sejarah dan hubungan antarmasyarakat yang kuat, menjadi fondasi penting bagi kemitraan kedua negara.
“Indonesia dan Uzbekistan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan peluang ekonomi Asia Tenggara dan Asia Tengah. Dengan memperkuat kemitraan dan konektivitas, kita dapat menciptakan lebih banyak perdagangan, investasi, dan kesejahteraan bagi masyarakat kedua negara,” ujar Wamendag.
Menurut Roro Esti, potensi kerja sama tersebut tercermin dari tren perdagangan bilateral yang terus meningkat. Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia dan Uzbekistan mencapai sekitar 181 juta dolar AS.
Ekspor utama Indonesia antara lain margarin, lemak nabati, sabun, dan berbagai produk manufaktur lainnya. Adapun impor Indonesia didominasi oleh pupuk kalium, pulp serat, serta aluminium.
Momentum positif perdagangan tersebut semakin diperkuat dengan dimulainya perundingan Indonesia-Uzbekistan Free Trade Agreement (IU-FTA) pada Maret 2026.
Perundingan ini diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan arus perdagangan dan investasi, serta menciptakan peluang baru bagi pelaku usaha kedua negara.
Selain itu, Wamendag menyoroti pentingnya peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai motor pertumbuhan ekonomi.
Di Indonesia, UMKM berkontribusi sekitar 60 persen terhadap perekonomian nasional, sementara di Uzbekistan kontribusinya mencapai sekitar 55 persen.
“Pemerintah dapat menciptakan kerangka kerja sama dan membuka akses pasar. Namun, keberhasilan pemanfaatan peluang ekonomi pada akhirnya ditentukan oleh pelaku usaha. Karena itu, penguatan kemitraan antarpelaku usaha atau business to business menjadi sangat penting,” jelas Roro Esti.
Dalam paparannya, Wamendag juga menyampaikan berbagai upaya Indonesia dalam memperluas akses pasar melalui perundingan perdagangan internasional, termasuk perundingan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) yang saat ini terus berlangsung.
Menurutnya, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan komitmen Indonesia untuk memperkuat keterhubungan ekonomi dengan berbagai kawasan dunia.
Wamendag juga mengundang para pelaku usaha internasional untuk berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang akan diselenggarakan pada 14-18 Oktober 2026.
“Indonesia siap menjadi mitra yang konstruktif dan terpercaya bagi negara-negara di Asia Tengah, kawasan Teluk, dan berbagai kawasan lainnya. Kami optimistis kolaborasi yang semakin erat akan membuka peluang pertumbuhan dan kemakmuran bersama,” sebut Roro Esti. []











