KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) memperkuat kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi industri melalui program Master Trainer guna menciptakan sumber daya manusia (SDM) kompeten, yang mampu mendukung percepatan industrialisasi nasional dan memenuhi kebutuhan dunia usaha.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (26/5/2026), menyampaikan industri manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional, baik dari sisi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) maupun penyerapan tenaga kerja.
Oleh karena itu, penguatan SDM industri berbasis kebutuhan dunia industri menjadi prioritas pemerintah.
“Pendidikan vokasi yang sukses harus berbasis pada kebutuhan riil di ruang produksi melalui prinsip link and match. Kemenperin berkomitmen membangun ekosistem dual system pada pendidikan vokasi yang kuat dan memiliki standar global,” kata Menperin, dikutip dari Antaranews.
Menperin mengemukakan realisasi penyerapan tenaga kerja sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang pada Agustus 2025. Selain itu, sektor industri pengolahan juga tercatat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi terbesar pada awal 2026.
“Capaian tersebut menjadi landasan kuat bagi Kemenperin untuk terus memperluas program link and match antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja global,” imbuhnya.
Dalam rangka memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri, Kemenperin melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) berkolaborasi dengan Pemerintah Swiss melalui Swisscontact untuk menjalankan proyek Swiss Skills for Competitiveness (SS4C).
Salah satu implementasinya adalah penyelenggaraan pelatihan Master Trainer/Pelatih Tempat Kerja (In-Company Trainer/ICT) pada 18-25 Mei 2026 di Jakarta.
Kepala BPSDMI Kemenperin Doddy Rahadi mengatakan kolaborasi dengan Swiss tersebut menjadi langkah penting dalam mempercepat transfer pengetahuan, budaya kerja industri, serta inovasi untuk meningkatkan daya saing nasional.
“Kegiatan ICT ini memiliki peran penting dalam mentransfer kompetensi, membimbing proses pembelajaran berbasis industri, serta memastikan standar kompetensi dapat diterapkan secara nyata di lingkungan kerja,” ujar Doddy.
Pelatihan yang berlangsung selama delapan hari tersebut difokuskan pada penguatan ekosistem ICT untuk implementasi magang terstruktur di wilayah Banten, pengembangan jaringan Master ICT di Sumatera, serta penguatan kapasitas teknis service provider di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Sejak diinisiasi pada tahun 2019, Kemenperin bersama Swiss telah melatih sebanyak 1.310 ICT dan 139 Master ICT. Jumlah tersebut menunjukkan komitmen kedua pihak dalam membangun ekosistem pengembangan SDM industri yang kuat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) BPSDMI Kemenperin Wulan Aprilianti Permatasari menilai, peningkatan kualitas dan kuantitas ICT menjadi kebutuhan penting dalam mendukung implementasi pendidikan vokasi berbasis industri. []











