ANGGOTA Komisi IV DPR RI Eko Wahyudi mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi lonjakan harga pangan dan dampak kekeringan menyusul musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
Dalam keterangan diterima di Jakarta, Jumat (17/4/2026), Eko mengatakan pemerintah perlu mengoptimalkan pemetaan dan mitigasi lintas sektor pada daerah dan wilayah terdampak kekeringan.
“Dengan dukungan alat dan infrastruktur, mulai dari program optimalisasi pengairan irigasi, rehabilitasi irigasi, embung, pemanfaatan air dangkal, air sumur dalam dan dangkal, pompanisasi dan irigasi perpipaan, serta mengatur pola tanam dengan varietas tahan kekeringan,” katanya, dikutip dari Antaranews.
Ia juga berharap pemerintah intens memantau harga pangan agar lonjakan harga bisa diintervensi melalui kebijakan dan program. Misalnya, telur sempat mengalami penurunan harga, sementara harga pakan terus naik.
Ia mengatakan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menyerap produksi telur untuk program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Untuk menyiasati kerugian peternak ayam petelur akibat harga pakan yang tinggi dan harga jual rendah, Badan Gizi Nasional dapat memerintah satuan pelayanan pemenuhan gizi sebagai unit pelaksana program MBG untuk menyerap produksi telur guna menstabilkan harga dan menguntungkan peternak setempat,” ucapnya.
Di sisi lain, legislator bidang pertanian itu mengapresiasi pemerintah yang dinilai berhasil menjaga stok pangan nasional, khususnya beras.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (7/4), menjelaskan stok beras nasional mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat hingga 11 bulan ke depan.
“Ini merupakan capaian yang sangat luar biasa dan bersejarah. Padahal, kita tahu, dunia sedang tidak baik-baik saja. Di tengah konflik Timur Tengah yang semakin tak terarah, harga pangan dunia naik 2,4 persen dan eskalasi harga bisa sangat cepat berubah,” ucapnya. []











