Rikwanto Soroti Honor Pengajar Polri, Sebut Bisa Sampai Nyambi Ngojek

ANGGOTA Komisi III DPR Fraksi Partai Golkar, Rikwanto mengatakan orang-orang yang menjadi tenaga pengajar di Polri bisa jadi mencari nafkah tambahan dengan cara ngojek atau berjualan di pasar. Sebab, gaji guru di Polri hanya Rp 100.000 per jam.

“Yang paling krusial anggaran para pengajar. Honornya itu masih standar masa lalu. Bagaimana kita mau dapat hasil maksimal yang bibit unggul yang akan memimpin Polri ke depan, dengan konsep honor yang minimalis sekali. Takutnya dia habis ngajar, pulang ngojek, atau jualan di pasar,” ujar Rikwanto saat rapat bersama Kalemdiklat Polri dan Gubernur Akpol di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Rikwanto meyakini kebutuhan para guru di Polri pasti tidak terpenuhi jika hanya dihargai Rp 100.000 per jam. Dia pun mempersilakan Kalemdiklat mengajukan honor pengajar yang layak, mengingat guru mengajar para polisi yang menjadi calon pemimpin Polri di masa depan.

Selain itu, Rikwanto juga mengusulkan agar Polri merekrut orang yang sudah muncul bibit unggulnya untuk menjadi polisi, bukan ‘sampah’.

“Masalah rekrutmen, suka tidak suka, rekrutmen ini harus dari bibit unggul. Dari lulusan SMA, mungkin sudah kuliah boleh masuk Akpol atau pendidikan Polri. Karena kenapa? Ada istilah ‘kalau masuk sampah, keluar sampah’. Memang tidak enak disebutkan. Tapi demikian,” tegas eks Kapolda Kalimantan Selatan ini, dikutip dari Kompas.

Polri usul gaji guru Polri naik Sementara itu, Plt Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri Irjen Andi Rian Djajadi pun mengusulkan gaji guru Polri naik dari Rp 100.000 per jam menjadi Rp 200.000 per jam.

“Struktur honor gadik (tenaga pendidikan), kami memohon penyesuaian dari yang sebelumnya flat di angka Rp 100.000 menjadi rata-rata Rp 200.000 per jam pelajaran. Terdapat kebutuhan tambahan Rp 69,2 miliar agar kami bisa menjaga motivasi dan ketersediaan pengajar kompeten,” jelas Andi Rian. []

Leave a Reply