WAKIL Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan pemerintah mendorong komunitas pecinta gim lokal untuk menyosialisasikan gim buatan anak bangsa di pasar Indonesia agar dampak komersialisasinya bisa dirasakan di negeri sendiri.
“Masih banyak sekali game Indonesia yang perlu kita sosialisasikan ke orang kita sendiri. Teman-teman di sini mempunyai peran, bukan hanya sebagai user, sebagai orang yang minat terhadap game nasional kita, tapi juga mempunyai peran tambahan, yaitu bagaimana kalian dengan cara yang kreatif bisa menyebarluaskan informasi ini,” kata Wamendag dalam acara pembukaan Lapakgaming Battle Arena Series 3 “Beyond the Battle” di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Ia mengatakan event yang diselenggarakan Lapakgaming di bawah naungan BUKA Group selain bertujuan menyatukan komunitas pecinta gim, juga sebagai wadah untuk memamerkan potensi gim lokal yang sebenarnya tidak kalah bersaing dari kualitas gim luar.
“Banyak gim buatan Indonesia ternyata justru lebih diminati dan banyak diunduh di luar negeri ketimbang di negara sendiri,” katanya, dikutip dari Antaranews.
Dyah Roro mengatakan Indonesia merupakan negara ketiga di Asia yang memiliki jumlah unduhan game terbanyak dan memiliki 192 juta gamer, atau sekitar 43 persen dari total gamer di Asia Tenggara. Potensi pasar domestik dari gim juga cukup tinggi namun masih didominasi oleh gim asing sebesar 99,5 persen.
Ini menyebabkan dampak komersialisasinya seringkali tidak dirasakan para pengembang gim nasional karena masih minimnya ruang publikasi dan sosialisasi.
“Potensi pasar domestik kita juga sebetulnya masih memiliki ruang untuk kita monetize. Dan baru sekitar 57 persen pengguna game di Indonesia yang berpartisipasi secara komersial, ataupun melakukan pembelanjaan. Jadi ini masih banyak sekali ruang yang bisa kita isi dan saya yakin insya Allah melalui kolaborasi, melalui kegiatan seperti ini, ini bisa menjadi titik awal,” katanya.
Ia mengatakan selain soal kreativitas atau kualitas dari produk, akses terhadap etalase digital, visibilitas distribusi, dan mekanisme monetisasi yang sesuai dengan karakter konsumen Indonesia menjadi cara yang bisa dilakukan untuk membangkitkan potensi gim nasional.
Melalui acara yang melibatkan komunitas gaming, diharapkan gim lokal bisa disebarluaskan melalui koneksi antarkomunitas dan mengamankan pasar nasional. Kolaborasi dengan pemerintah juga diperlukan untuk memperluas akses gim nasional ke global agar ekosistem industri gim Indonesia bisa berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi kepada bangsa. []











