WAKIL Menteri Perdagangan (Wamendag) RI, Dyah Roro Esti, baru-baru ini memperkuat kemitraan perdagangan dan investasi Indonesia dengan dua negara tetangga strategis, Singapura dan Malaysia. Pertemuan bilateral penting ini berlangsung di sela-sela agenda 32nd ASEAN Economic Ministers (AEM) Retreat di Taguig, Filipina, pada Jumat (13/3/2026) lalu.
Dalam serangkaian diskusi tersebut, Indonesia menegaskan komitmennya untuk membangun kerja sama perdagangan yang lebih terbuka, inklusif, serta berorientasi pada pertumbuhan ekonomi kawasan. Langkah ini diharapkan dapat membuka jalan bagi peningkatan signifikan dalam volume dan nilai perdagangan antarnegara di Asia Tenggara.
Wamendag Roro Esti secara aktif menjalin komunikasi dengan Deputy Prime Minister and Minister of Trade and Industry Singapura, Gan Kim Yong, serta Deputy Minister of Investment, Trade, and Industry Malaysia, Sim Tze Tzin. Fokus utama adalah mengidentifikasi peluang baru dan memperdalam hubungan ekonomi yang sudah terjalin erat.
Prospek Cerah Kemitraan Perdagangan Indonesia-Singapura
Dalam pertemuan dengan perwakilan Singapura, Wamendag Roro Esti menyoroti perkembangan positif hubungan perdagangan kedua negara yang terus menunjukkan tren peningkatan. Data menunjukkan bahwa nilai perdagangan Indonesia-Singapura mengalami lonjakan signifikan sebesar 14,6 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Peningkatan ini tercatat dari angka 16,85 miliar dolar AS pada tahun 2020 menjadi 19,32 miliar dolar AS pada tahun 2025. Angka tersebut mengindikasikan dinamika ekonomi yang kuat serta potensi besar untuk terus mengembangkan kemitraan strategis ini di masa mendatang, dikutip dari Merdeka.
Indonesia melihat peluang besar untuk terus mengembangkan kemitraan perdagangan dengan Singapura, terutama dalam mendorong diversifikasi produk ekspor Indonesia. Fokusnya adalah pada komoditas yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, sehingga dapat memberikan keuntungan maksimal bagi perekonomian nasional.
Selain itu, Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan proses aksesi terhadap Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP). CPTPP dipandang sebagai kerangka kerja perdagangan modern yang krusial untuk memperkuat integrasi ekonomi di kawasan Indo-Pasifik.
Memperkuat Kolaborasi Ekonomi Regional dan Global
Diskusi antara Indonesia dan Singapura tidak hanya terbatas pada isu bilateral, melainkan juga merambah ke berbagai agenda kerja sama ekonomi regional yang lebih luas. Salah satu poin penting adalah perkembangan negosiasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem ekonomi digital yang terintegrasi di kawasan.
Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) juga menjadi topik pembahasan, menegaskan pentingnya perjanjian ini dalam memperkuat rantai pasok regional dan memfasilitasi perdagangan yang lebih bebas. Berbagai inisiatif kerja sama perdagangan dan investasi lainnya turut dibahas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Wamendag Roro Esti menekankan bahwa Indonesia berkomitmen penuh untuk melanjutkan proses aksesi CPTPP. Langkah ini merupakan bagian integral dari agenda transformasi ekonomi nasional, sekaligus upaya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam sistem perdagangan global yang berbasis aturan dan transparan.
Kerja sama regional seperti DEFA dan RCEP diharapkan dapat terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan. Inisiatif-inisiatif ini menjadi pilar penting dalam menciptakan stabilitas ekonomi dan kemakmuran bersama di seluruh negara anggota ASEAN.
Peluang Ekspansi Kemitraan Perdagangan RI Malaysia
Dalam pertemuan terpisah dengan Deputy Minister of Investment, Trade, and Industry Malaysia, Sim Tze Tzin, Wamendag Roro Esti juga membahas upaya strategis untuk memperkuat hubungan perdagangan bilateral. Kemitraan Perdagangan RI Malaysia telah menunjukkan angka yang mengesankan, dengan total perdagangan mencapai 24,22 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Angka ini membuktikan bahwa kedua negara memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan potensi besar untuk terus tumbuh bersama. Indonesia melihat peluang signifikan untuk memperluas akses pasar serta meningkatkan kerja sama di berbagai sektor bernilai tambah antara kedua negara.
Pertemuan ini juga fokus pada penguatan mekanisme kerja sama bilateral yang sudah ada. Rencana penyelenggaraan Joint Trade and Investment Committee (JTIC) serta penguatan kerja sama investasi melalui Malaysia-Indonesia Investment Committee (MIIC) menjadi agenda utama untuk memfasilitasi investasi dan perdagangan.
Selain itu, kedua negara juga membahas perkembangan kerja sama perdagangan di kawasan perbatasan. Implementasi Border Trade Agreement (BTA) 2023 dan upaya percepatan normalisasi perdagangan lintas batas di Entikong-Tebedu menjadi prioritas untuk meningkatkan konektivitas dan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan. []











