Sarmuji Tegaskan Festival Saja Tak Cukup untuk Lestarikan Seni Tradisional

ANGGOTA Komisi VI DPR RI sekaligus Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M Sarmuji menegaskan bahwa upaya melestarikan seni tradisional tidak cukup hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan festival atau kegiatan seremonial.

Menurutnya, keberlangsungan warisan budaya bangsa hanya dapat terjaga apabila didukung kebijakan yang berpihak kepada para pelaku seni serta ekosistem kebudayaan secara berkelanjutan.

Penegasan tersebut disampaikan Sarmuji saat menghadiri kegiatan reses dan sosialisasi bersama Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, di Balai Desa Picisan, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, Senin (27/7/2026). Kegiatan itu dihadiri kepala desa se-Kecamatan Sendang, pelaku seni, tenaga kesehatan, serta masyarakat setempat.

Menurut Sarmuji, kesenian tradisional seperti gamelan, jaranan, wayang, hingga Wayang Jembul merupakan bagian penting dari identitas bangsa yang harus terus dijaga keberlangsungannya. “Seni tradisi bukan sekadar hiburan, tetapi media pewarisan nilai, karakter, dan jati diri bangsa,” ujarnya, dikutip dari Golkarpedia.

Ia mengingatkan bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah menegaskan Pancasila digali dari nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, menjaga seni tradisi pada hakikatnya merupakan bagian dari menjaga akar kebangsaan Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Sarmuji juga menyampaikan pesan moral melalui falsafah Jawa Adigang, Adigung, Adiguna. Menurutnya, kekuasaan, jabatan, maupun kecerdasan tidak boleh melahirkan kesombongan, melainkan harus digunakan untuk melayani masyarakat.

Di bidang pembangunan, Sarmuji mengungkapkan Kabupaten Tulungagung menjadi salah satu daerah yang tidak mengalami pemotongan alokasi anggaran pemerintah pusat pada 2026. Ia memastikan akan terus mengawal berbagai program pembangunan, mulai dari sektor pertanian, kebudayaan, hingga infrastruktur desa agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, menilai tantangan terbesar dalam pelestarian seni tradisional bukan terletak pada minimnya minat masyarakat, melainkan lemahnya dukungan kebijakan dan masih rumitnya birokrasi penyelenggaraan pertunjukan seni.

Menurut Jairi, banyak kelompok seni kehilangan ruang untuk tampil sehingga proses regenerasi berjalan lambat. Di sisi lain, proses perizinan pertunjukan dinilai masih berbelit karena harus melalui berbagai tahapan administrasi lintas instansi.

“Seniman membutuhkan panggung yang berkelanjutan. Tanpa ruang tampil, kemampuan yang dimiliki akan hilang bersama waktu,” kata Jairi.

Untuk itu, ia mendorong agar seluruh proses perizinan pertunjukan dipusatkan melalui sistem satu pintu di bawah koordinasi Dinas Pariwisata sehingga lebih mudah diakses oleh para pelaku seni.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya, Jairi mengungkapkan telah memperjuangkan bantuan seperangkat gamelan kuningan untuk Desa Tanggung, gamelan bagi Desa Besuki, perangkat digital untuk Desa Ngebong, serta perlengkapan jaranan di Kecamatan Sendang.

Selain membahas isu kebudayaan, Jairi juga menyoroti rendahnya partisipasi masyarakat Kabupaten Tulungagung dalam program cek kesehatan gratis. Ia menyebut tingkat partisipasi warga menurun dari sekitar 23 persen pada 2025 menjadi sekitar 12 persen pada 2026.

Karena itu, setiap kegiatan reses Partai Golkar, lanjutnya, selalu disertai layanan pemeriksaan kesehatan gratis sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini penyakit. []

Leave a Reply