KETUA Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah tidak mengecilkan berbagai persoalan dalam implementasi sistem administrasi perpajakan Coretax. Menurutnya, masalah yang muncul bukan sekadar transisi teknologi, melainkan indikasi kelemahan mendasar dalam perencanaan dan eksekusi reformasi perpajakan.
“Jangan sampai negara terlihat seperti sedang bereksperimen dengan sistem pajaknya sendiri. Ini menyangkut kredibilitas fiskal Indonesia,” ujar Misbakhun, Jumat (27/3/2026).
Minta Evaluasi Menyeluruh
Misbakhun menegaskan, Coretax bukan proyek kecil, melainkan sistem vital bagi penerimaan negara. Ia menyoroti keluhan terkait desain yang tidak ramah pengguna, proses bisnis yang tidak sinkron, hingga kesiapan sistem yang belum optimal.
“Kalau dari awal sudah muncul keluhan soal desain yang tidak user friendly, proses bisnis yang tidak sinkron, dan kesiapan sistem yang belum optimal, maka pemerintah tidak boleh defensif. Ini harus dibedah total,” tegasnya.
Ia mengingatkan, jika masalah Coretax tidak segera diselesaikan secara struktural, kinerja penerimaan negara bisa terganggu. Selain itu, berpotensi menurunkan kepatuhan wajib pajak karena kesulitan administratif. “Kita tidak boleh mempertaruhkan tax ratio hanya karena sistem administrasi belum siap,” katanya, dikutip dari Kompas.
Misbakhun mendesak pemerintah mengambil langkah korektif, mulai dari audit teknologi dan tata kelola proyek secara independen, hingga evaluasi kontrak pengembang sistem. Ia juga meminta penguatan kapasitas sumber daya manusia digital di Direktorat Jenderal Pajak. “Kalau ada yang harus dikoreksi, ya harus dikoreksi secara fundamental,” ujarnya.
Menkeu Akui Ada Masalah Desain
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui sistem Coretax masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk pada tahap perancangan awal. “Pertama salah desain. Lalu saya curiga Coretax ini dibuat kusut dan mungkin ada ruang supaya ada bisnis. Nanti kita akan betulkan,” kata Purbaya.
Ia juga menyoroti kendala pada perangkat lunak dan integrasi dengan aplikasi pihak ketiga yang membuat layanan menjadi lambat. “Kenapa sulit dipakai? Salah satu kelemahannya ada pada layanan penghubung aplikasi yang justru kalah cepat,” ujarnya. []











