Menperin Agus Gumiwang: Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Siap Pacu Ekonomi Nasional

KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) menegaskan, sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang menjadi salah satu penopang utama kinerja manufaktur, siap untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, ini karena capaian kinerja industri pengolahan tidak terlepas dari ketahanan sektor industri dalam negeri, termasuk IKFT yang mampu bertahan dan tumbuh di tengah tantangan global.

“Berkat jerih payah sektor industri dalam negeri, industri pengolahan secara konsisten menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” kata Menperin dalam pernyataan di Jakarta, Selasa (10/2/2026), dikutip dari Antaranews.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan tercatat sebagai kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan pertumbuhan yang relatif stabil dalam tiga tahun terakhir dan terus signifikan hingga mencapai 5,30 persen pada 2025.

Sebagai bagian penting dari industri pengolahan, sektor IKFT mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 5,11 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,21 persen.

Sektor ini juga memberikan kontribusi sebesar 3,87 persen terhadap PDB, dengan kontribusi terbesar berasal dari subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,83 persen.

Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT, Sri Bimo Pratomo menyampaikan, dari sisi subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,35 persen pada 2025, naik dari 5,86 persen pada 2024.

Sementara subsektor industri barang galian bukan logam tumbuh 6,16 persen setelah sebelumnya mengalami kontraksi sebesar 0,6 persen.

“Pertumbuhan IKFT yang sejalan dengan pertumbuhan nasional menunjukkan sektor ini tetap menjadi penopang penting pada industri pengolahan nonmigas, serta mampu menjaga momentum pertumbuhan industri nasional,” ujar dia.

Kinerja IKFT sebagai penopang manufaktur juga tercermin dari perdagangan luar negeri. Selama Januari hingga November 2025, sektor IKFT membukukan surplus neraca perdagangan dengan nilai ekspor mencapai 49,15 miliar dolar AS, meningkat 6,26 miliar dolar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara kontribusi ekspor terbesar berasal dari subsektor industri bahan kimia dan barang dari kimia sebesar 20,79 miliar dolar AS.

Selain itu, subsektor industri kimia berbasis pertanian mencatatkan peningkatan ekspor dari 6,25 miliar dolar AS menjadi 9,25 miliar dolar AS, disusul subsektor industri alas kaki keperluan sehari-hari yang naik dari 2 miliar menjadi 3 miliar dolar AS di periode yang sama.

Lebih lanjut, dari sisi investasi pada periode Januari hingga September 2025, realisasi investasi IKFT mencapai Rp142,15 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp116,54 triliun. Investasi terbesar berasal dari subsektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar Rp58,4 triliun. []

Leave a Reply