MENTERI Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan keluarga menjadi fondasi kesejahteraan bangsa untuk menjawab tantangan bonus demografi.
“Keluarga adalah unit terkecil dalam negara, sehingga penguatan unit keluarga menjadi sangat krusial dalam menjawab tantangan bonus demografi. Melalui perencanaan keluarga yang matang, pengasuhan berkualitas, serta penguatan ketahanan keluarga antargenerasi, setiap individu diharapkan dapat tumbuh optimal sejak dini, produktif di usia kerja, hingga sejahtera di usia lanjut,” ujar Wihaji pada dialog “Menuju Kesejahteraan Antar-Generasi” di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (6/4/2026), dikutip dari Antaranews.
Ia menegaskan, perubahan struktur penduduk harus direspons melalui kebijakan pembangunan yang berorientasi pada kualitas keluarga sebagai unit terkecil dalam negara, karena keberhasilan memanfaatkan bonus demografi tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga kesiapan keluarga dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, berpendidikan, dan mandiri secara ekonomi.
Wihaji menambahkan, pembangunan kependudukan dan keluarga harus dilaksanakan secara terintegrasi berbasis siklus hidup, mulai dari pranikah, kehamilan, pengasuhan anak, usia produktif, hingga lanjut usia. Pendekatan tersebut menjadi penting agar transisi demografi Indonesia dapat menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial secara berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Selain itu, menurut dia, kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan kebijakan pembangunan berbasis dinamika kependudukan perlu diarusutamakan.
Sebagai tindak lanjut, Kemendukbangga/BKKBN akan terus memperkuat sinergi lintas sektor melalui pembangunan keluarga berbasis siklus hidup guna memastikan setiap tahapan kehidupan penduduk Indonesia terlindungi, produktif, dan sejahtera secara berkelanjutan. []











