Ilham Permana: Industri Pengolahan Kian Kokoh Jadi Tulang Punggung Ekonomi

ANGGOTA Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Ilham Permana menilai kinerja industri pengolahan sepanjang 2025 menunjukkan penguatan signifikan pada struktur ekonomi nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan kembali menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional 2025 dengan porsi mencapai 19,07 persen dan mendominasi sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

“Sebagai anggota Komisi VII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), saya melihat data BPS ini sebagai sinyal positif bahwa fondasi industri pengolahan semakin kokoh,” ujar Ilham dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, industri pengolahan bukan hanya bertahan, tetapi justru memiliki peran dominan dalam ekonomi nasional di tengah tekanan ketidakpastian global dan banjir produk impor murah di pasar domestik. Ilham menjelaskan, kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional naik dari 18,67 persen pada 2023 menjadi 18,98 persen pada 2024, dan kembali meningkat pada 2025.

Capaian ini menunjukkan arah pembangunan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada sektor produktif bernilai tambah tinggi. Tak hanya dari sisi kontribusi, laju pertumbuhan industri pengolahan juga menunjukkan tren positif. Pada 2025, sektor ini tumbuh 5,30 persen, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Bahkan, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan kontribusi 1,07 persen, melampaui sektor-sektor lainnya.

Hal itu sekaligus membuktikan bahwa industri pengolahan memiliki multiplier effect yang tinggi dalam perekonomian nasional, baik efek pengganda ke sektor ekonomi hilir (forward linkage) maupun ke sektor ekonomi hulu (backward linkage).

“Dalam teori ekonomi, mustahil sektor industri pengolahan disebut mengalami deindustrialisasi jika kontribusi PDB, laju pertumbuhan, dan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi semuanya meningkat. Data BPS ini sekaligus membantah narasi deindustrialisasi atau bahkan deindustrialisasi dini yang disematkan pada industri dalam negeri,” tegas Ilham.

Kinerja ekspor industri menguat

Ia juga menyoroti kinerja ekspor industri pengolahan yang terus membaik. Ekspor sektor ini tumbuh 7,03 persen pada 2025, sementara impor barang dan jasa justru menunjukkan tren penurunan. Menurut Ilham, kondisi tersebut mencerminkan penguatan struktur industri nasional serta meningkatnya kemampuan produksi dalam negeri.

“Kenaikan ekspor yang dibarengi penurunan impor merupakan indikator penting bahwa substitusi impor dan hilirisasi mulai memberikan hasil nyata. Rantai pasok industri nasional semakin kuat dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan input proses produksi, yang berujung pada peningkatan daya saing produk dan industri,” kata Ilham.

Lebih lanjut, ia mengapresiasi arah kebijakan Kemenperin yang pada 2026 akan fokus memperkuat integrasi industri kecil ke dalam rantai pasok industri nasional. Ilham menilai kebijakan itu krusial untuk memastikan pertumbuhan industri juga berdampak pada pemerataan ekonomi.

“Integrasi industri kecil ke dalam rantai pasok industri besar bukan hanya memperkuat kemandirian industri nasional, tetapi juga membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah,” ujarnya.

Ilham menegaskan, industri pengolahan harus terus ditempatkan sebagai motor utama transformasi ekonomi nasional, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo dan Strategi Baru Industri Nasional (SBIN).

“Dengan capaian yang ada saat ini, saya optimistis industri pengolahan akan tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia ke depan. Tantangan memang berat, tetapi data membuktikan bahwa industri nasional kita mampu tumbuh kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya. []

Leave a Reply