Airlangga Hartarto Ungkap Peran AI di Transportasi Online, Bisa Dongkrak Ekonomi Digital RI

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sektor ekonomi digital Indonesia dapat diperkuat melalui inovasi teknologi di bidang jasa transportasi daring.

Menurutnya, dengan inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) pada layanan jasa transportasi daring dapat mendukung mitra pengemudi, pelaku UMKM, serta konsumen, sekaligus menciptakan peluang pekerjaan yang baru dan inklusif.

“Pemanfaatan teknologi AI ini untuk mengoptimalkan daya beli para mitra, khususnya usaha kecil dan menengah. Selain itu, pemanfaatan data secara instan, mulai dari tren penjualan hingga ringkasan pelanggan, tentu akan membantu pelaku UMKM dalam menentukan jenis produk yang perlu dikembangkan maupun dipasok,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Dia mengemukakan, di tengah ketidakpastian global, tensi geopolitik, dan volatilitas ekonomi dunia, perekonomian nasional justru menunjukkan ketahanan yang kuat.

Pada triwulan IV-2025, perekonomian nasional mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,39 persen secara tahunan, yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja pertumbuhan ekonomi yang solid di antara negara-negara G20.

Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi dengan laju sebesar 4,99 persen serta menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yakni mencapai 53,63 persen.

Kinerja tersebut juga mencerminkan salah satu tingkat kontribusi konsumsi domestik yang relatif tinggi di antara negara-negara G20. Hal ini sejalan dengan besarnya basis pasar domestik Indonesia yang turut mendorong tingginya aktivitas ekonomi, termasuk pada sektor ekonomi digital.

“Pemerintah memandang digitalisasi dan AI sebagai mesin pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia. Indonesia memiliki nilai ekonomi digital yang sangat menjanjikan, nilai ekonomi digital Indonesia hampir mencapai USD 100 miliar,” ujar Airlangga, dikutip dari Antaranews.

Pada tahun 2025, Indonesia telah memiliki sekitar 3.200 perusahaan rintisan (startup), serta tujuh unicorn berskala global yang bergerak di bidang makanan dan minuman, finteche-commerce, dan transportasi.

Sementara itu, ekonomi digital di Asia Tenggara juga mengalami peningkatan pendapatan dari berbagai aplikasi berbasis AI di Indonesia. Airlangga menilai, hal tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar AI paling potensial di Asia.

Meski menawarkan peluang besar, perkembangan dan adopsi teknologi turut mendorong pergeseran kebutuhan tenaga kerja.

Laporan World Economic Forum mencatat bahwa sekitar 22 persen jenis pekerjaan diproyeksikan akan mengalami perubahan dalam beberapa tahun ke depan.

Untuk itu, Airlangga memandang ketersediaan talenta digital yang adaptif serta mampu berinovasi menjadi kunci dalam memastikan transformasi digital dapat berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah terus memperkuat kesiapan nasional melalui berbagai inisiatif, termasuk kolaborasi dengan Arm Holdings dalam pengembangan kapasitas teknologi, yang pada tahun ini menargetkan pelatihan bagi 15.000 talenta di bidang AI.

Pada skala regional, Indonesia juga telah menginisiasi penyusunan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) sebagai fondasi penguatan ekonomi digital kawasan.

“Saya berharap pada 2026, di bawah kepemimpinan Filipina, hal ini (ASEAN DEFA) dapat ditandatangani. Jika dapat ditandatangani, maka peluang ekonomi digital global akan meningkat dari 1 triliun dolar menjadi 2 triliun dolar pada 2030,” kata Airlangga. []

Leave a Reply