Bahlil Lahadalia, Bukan Karena Anak Timur melainkan Ia hadir Sebagai Anak INDONESIA

ADA satu hal yang menurut saya penting dari momentum peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam momentum tersebut bukan hanya memberikan makna penting bagi perjalanan personal Bahlil Lahadalia, tetapi juga menghadirkan sebuah pesan yang lebih besar tentang bagaimana Indonesia seharusnya melihat keberhasilan seseorang.

Saya sejak dahulu sungguh menghindari dikotomi dalam penyebutan “Timur” dan “Barat”, terutama ketika istilah itu digunakan untuk menggambarkan seseorang dengan kalimat seperti “melangkah dari Timur”, “salah satu anak Timur”, atau “anak Timur yang berhasil”.

Sekilas kalimat-kalimat tersebut terdengar sebagai bentuk penghargaan. Tetapi jika direnungkan lebih jauh, tanpa disadari ia dapat membangun sebuah jurang sosial dan psikologis: seolah-olah Barat adalah ukuran kemajuan, sementara Timur adalah wilayah yang tertinggal dan keberhasilan seseorang dari sana merupakan sebuah pengecualian.

Saya tidak ingin cara pandang seperti itu terus dipelihara.

Sebab, takdir seseorang tidak ditentukan oleh dari mana ia berasal. Keberhasilan tidak mengenal batas geografis. Yang menentukan adalah semangat, kerja keras, konsistensi, fokus pada bidang yang digeluti, kesempatan, keberanian mengambil peluang dan, tentu saja, pertolongan Tuhan.

Dalam konteks itulah saya melihat perjalanan hidup Bahlil Lahadalia.

Bahlil memiliki perjalanan hidup yang menarik sekaligus kaya makna. Ia tumbuh dan ditempa di kawasan Indonesia Timur, termasuk Fakfak, Papua. Tetapi pada saat yang sama, ia memiliki akar keluarga dari masyarakat Buton di Sulawesi Tenggara. Sejumlah catatan mengenai keluarganya menyebut leluhur dari pihak ayah berasal dari Sulawesi Tenggara yang merantau hingga Kepulauan Banda dan kemudian keluarganya menjalani kehidupan di kawasan Papua.

Bagi saya, latar belakang tersebut justru memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya.

Seorang manusia dapat memiliki akar leluhur di satu tempat, tumbuh dan ditempa di tempat lain, memperoleh pendidikan di tempat yang berbeda, kemudian mengabdikan dirinya untuk seluruh Indonesia. Indonesia bukan sekadar kumpulan pulau. Indonesia adalah perjumpaan manusia, kebudayaan, sejarah, pengalaman dan cita-cita yang berbeda dalam satu rumah kebangsaan.

Karena itu, saya tidak ingin perjalanan Bahlil hanya dibaca sebagai cerita tentang “anak Timur yang berhasil”. Justru kita harus keluar dari cara pandang tersebut. Bahlil bukan berhasil karena ia anak Timur. Ia berhasil karena ia bekerja keras, berani mengambil kesempatan, mampu bertahan menghadapi keadaan, membangun pengalaman dan terus bergerak. Dan yang tidak kalah penting, perjalanan itu berlangsung dalam sebuah Indonesia yang memberinya ruang untuk tumbuh.

Di sinilah kisah Bahlil menjadi penting bagi generasi muda. Kita sering lupa bahwa orang-orang besar tidak selalu lahir dari keadaan yang besar.

Bahlil berasal dari keluarga sederhana. Ibunya pernah bekerja sebagai buruh cuci, sementara ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan. Ketika menjalani pendidikan di Jayapura, ia membiayai kehidupannya melalui berbagai pekerjaan, termasuk menjadi sopir angkutan dan pekerjaan lainnya. Perjalanan itu menunjukkan bahwa pendidikan, kerja keras dan pengalaman hidup dapat menjadi tangga mobilitas sosial bagi seseorang.

Karena itu, kisah hidup Bahlil bukan hanya milik Bahlil. Ia adalah cerita yang seharusnya sampai kepada anak-anak Indonesia yang hari ini sedang belajar di sekolah, madrasah, pesantren dan perguruan tinggi; kepada mereka yang berasal dari keluarga sederhana; kepada mereka yang tinggal di pulau-pulau kecil dan daerah yang jauh dari pusat kekuasaan; dan kepada mereka yang mungkin hari ini belum mengetahui ke mana perjalanan hidupnya akan membawa mereka.

Pesannya sederhana, jangan pernah merasa bahwa tempat kelahiran menentukan batas masa depan. Seorang anak yang lahir dalam keadaan sederhana tetap berhak memiliki mimpi yang besar. Seorang anak yang berasal dari pulau kecil tetap berhak menjadi ilmuwan.

Anak seorang petani dapat menjadi profesor.

Anak seorang buruh dapat menjadi pengusaha.

Anak dari daerah terpencil dapat menjadi diplomat.

Anak dari keluarga sederhana dapat menjadi pemimpin.

Itulah makna sesungguhnya dari mobilitas sosial.

Negara yang sehat adalah negara yang memungkinkan seseorang bergerak berdasarkan kemampuan, kerja keras, pendidikan, integritas dan prestasi, bukan semata-mata karena nama keluarga, tempat kelahiran atau kekayaan orang tuanya.

Di sinilah pentingnya meritokrasi dan kesetaraan kesempatan.

Kita tidak boleh mengatakan kepada anak-anak dari daerah bahwa mereka harus bekerja dua kali lebih keras hanya karena mereka lahir di wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan. Sebaliknya, negara harus memastikan bahwa kualitas pendidikan, akses terhadap informasi, kesempatan ekonomi dan ruang kepemimpinan tersedia secara semakin merata.

Sebab ketika kesempatan diberikan secara adil, kita akan menemukan begitu banyak Bahlil-Bahlil baru di seluruh penjuru Indonesia.

Mungkin mereka belum terlihat.

Mungkin mereka masih duduk di bangku sekolah.

Mungkin mereka sedang menjual makanan untuk membantu orang tuanya.

Mungkin mereka sedang bekerja sambil kuliah.

Mungkin mereka sedang belajar di sebuah kampus yang belum terkenal.

Tetapi jangan pernah menganggap mereka tidak memiliki masa depan.

Bisa jadi di antara mereka ada calon menteri, profesor, diplomat, pengusaha, ilmuwan, pemimpin organisasi, bahkan pemimpin bangsa Indonesia di masa depan.

Itulah sebabnya saya melihat kisah Bahlil sebagai sebuah cerita motivasi.

Bukan untuk mengatakan bahwa semua anak harus menjadi seperti Bahlil.

Tetapi untuk mengatakan kepada generasi muda bahwa keadaan awal bukanlah keputusan akhir.

Presiden Prabowo dalam kesempatan tersebut juga mengenang perjalanan ketika dirinya dan Bahlil sama-sama berada dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kenangan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan dalam kehidupan politik dan pemerintahan dibangun melalui proses, interaksi, pengalaman, kerja bersama dan kepercayaan.

Bahlil kemudian dipercaya menduduki berbagai posisi strategis hingga menjadi Menteri dan Ketua Umum Partai Golkar.

Namun perjalanan menuju kekuasaan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.

Justru semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Jabatan bukan hadiah.

Jabatan adalah amanah.

Karena itu, seseorang boleh kita apresiasi karena perjalanan hidupnya, tetapi pada saat yang sama tetap harus dinilai berdasarkan kinerja, integritas dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Dalam konteks itu pula, kedekatan Presiden Prabowo dengan Bahlil memiliki arti politik yang penting. Bahlil bukan hanya berada dalam posisi strategis di pemerintahan, tetapi juga memimpin Partai Golkar, salah satu kekuatan politik utama dalam pemerintahan Prabowo-Gibran.

Namun kedekatan politik tidak boleh menghilangkan ukuran objektif.

Justru kepercayaan harus dibayar dengan kerja.

Kekuasaan harus dibuktikan melalui pengabdian.

Dan jabatan harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

Pada akhirnya, saya ingin kembali kepada persoalan awal: mengapa kita masih harus mengatakan “anak Timur yang berhasil”?

Mengapa tidak cukup kita mengatakan “anak Indonesia yang berhasil”?

Bagi saya, perubahan cara menyebut itu penting.

Karena bahasa membentuk cara kita melihat bangsa.

Jika terus-menerus kita mengatakan “anak Timur yang berhasil”, tanpa sadar kita membuat keberhasilan orang Timur tampak seperti pengecualian.

Padahal mereka bukan pengecualian.

Mereka adalah bagian dari bangsa ini.

Bahlil adalah salah satu contoh bahwa perjalanan seorang manusia dapat melintasi banyak ruang Indonesia: memiliki akar keluarga dari Buton dan Sulawesi Tenggara, tumbuh dalam perjalanan keluarga di kawasan Maluku, ditempa dalam lingkungan Fakfak dan Papua, kemudian menempuh pendidikan dan membangun karier hingga mencapai panggung nasional. (Timur Angin⁠)

Bukankah itu sesungguhnya gambaran Indonesia? Satu manusia, banyak ruang kebangsaan. Satu keluarga, banyak pengalaman. Satu perjalanan, tetapi akhirnya kembali kepada satu tujuan: Indonesia.

Karena itu kepada generasi muda saya ingin menyampaikan: Jangan minder karena berasal dari daerah. Jangan merasa kecil karena lahir dari keluarga sederhana. Jangan menganggap masa lalu sebagai hukuman bagi masa depan.

Belajarlah, bekerjalah dan bangun terus integritas. Jaga konsistensi, hormati orang tua dan gurumu. Bangun jaringan persahabatan yang sehat. Dan jangan pernah berhenti bermimpi.

Sebab tidak ada seorang pun yang tahu sejauh mana Tuhan akan membawa langkah seseorang yang mau bekerja keras dan tidak menyerah terhadap keadaan.

Bahlil bukan sekadar cerita tentang seorang anak dari kawasan Timur yang berhasil mencapai pusat kekuasaan.

Ia adalah pengingat bahwa anak Indonesia dari mana pun asalnya berhak bermimpi setinggi-tingginya. Dan suatu hari nanti, ketika seorang anak Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sumatra, Jawa atau dari daerah mana pun berhasil menjadi pemimpin bangsa, jangan lagi kita katakan ia berhasil “meskipun berasal dari Timur”.

Katakanlah: Ia berhasil karena Indonesia memberinya kesempatan, dan karena ia menggunakan kesempatan itu dengan kerja keras.

Timur bukan halaman belakang.

Barat bukan halaman depan.

Keduanya adalah bagian dari satu rumah yang sama. INDONESIA

Dan di rumah besar itulah setiap anak bangsa harus memiliki hak yang sama untuk bermimpi, belajar, berjuang dan menjadi yang terbaik. []

Oleh: Prof. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional

Leave a Reply