MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyiapkan kompor listrik dengan daya di bawah 900 kilovolt ampere (kVA) untuk rumah tangga, sebagai langkah konversi kompor LPG menjadi kompor listrik.
“Sebagai tahap awal, karena ada beberapa model kompor listrik, yang sekarang kami minta itu di sekitar di bawah 900 kVA, supaya rakyat yang di daerah-daerah, di desa itu bisa pakai,” ujar Bahlil ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (16/6/2026).
Akan tetapi, ia mengatakan belum menentukan berapa unit kompor listrik yang akan disiapkan. Ia memperkirakan kepastian jumlah unit kompor listriknya baru bisa diumumkan pada Agustus.
Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia mengimpor 80 persen dari kebutuhan LPG-nya. Setiap tahun, lanjut dia, devisa negara yang dikeluarkan untuk keperluan mengimpor LPG sebesar Rp120 triliun.
Dengan harga minyak dunia yang seperti saat ini, ia mengatakan devisa yang dikeluarkan untuk mengimpor LPG mencapai Rp130 triliun.
“Subsidinya sudah di atas Rp80 triliun. Kalau kondisi ini terus dibiarkan tanpa mencari diversifikasi bauran energi, itu akan menjadi masalah. Maka, alternatifnya adalah kompor listrik,” kata Bahlil, dikutip dari Antaranews.
Ia mengusulkan anggaran sebesar Rp815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 untuk program kompor listrik dalam rangka mengurangi ketergantungan impor LPG.
Wacana transisi dari kompor LPG menjadi kompor listrik pernah bergulir pada masa kepresidenan Joko Widodo (Jokowi).
Akan tetapi, pada September 2022, PT PLN (Persero) membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kilogram (kg) ke kompor listrik untuk menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.
Kemudian, ketika terjadi lonjakan harga energi akibat pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno kembali mendorong pemerintah untuk melakukan transisi dari kompor gas menjadi kompor listrik.
Eddy menyampaikan transisi dari kompor gas menjadi kompor listrik membutuhkan biaya yang lebih murah apabila dibandingkan dengan biaya yang digelontorkan untuk subsidi impor LPG. Dirinya menyoroti soal mengubah kompor LPG menjadi kompor listrik, mengingat harga LPG turut dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang kian meroket. []











