Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) memperingati Milad ke-48 dengan menggelar syukuran, istighosah, santunan anak yatim, serta pengumuman peserta Grand Final Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan Lomba Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional di Masjid Syajarotun Thoyyibah DPP Partai Golkar, Minggu (24/5). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, bersama jajaran pengurus dan kader MDI dari berbagai daerah.
Ketua Umum DPP MDI, KH. Choirul Anam, menegaskan bahwa perjalanan MDI selama 48 tahun tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang dakwah di lingkungan Golkar yang berakar dari gagasan besar para pendiri bangsa.
“Empat puluh delapan tahun lalu, tepatnya 24 Mei, atas prakarsa Almarhum Presiden Soekarno melalui Ketua Umum Golkar saat itu ketika masih berbentuk golongan karya, lahirlah gagasan agar para da’i memiliki wadah perjuangan di lingkungan Golkar. Dari gagasan itu berdirilah Majelis Dakwah yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soeharto menjadi Majelis Dakwah Islamiyah Keluarga Besar Golongan Karya,” ujar KH. Choirul Anam.
Ia menjelaskan, kepemimpinan pertama MDI diemban Almarhum KH. Thohir Wijaya sebagai Ketua Umum dan sekretaris jenderal pertama yang namanya bahkan diabadikan menjadi salah satu rumah sakit di Gorontalo. Dari perjalanan tersebut, MDI kemudian melahirkan dua organisasi sayap yakni Korps Perempuan Majelis Dakwah Islamiyah (KPMDI) dan Angkatan Muda Majelis Dakwah Islamiyah (AMMDI).
Menurut KH. Choirul Anam, tradisi syukuran dalam setiap Milad MDI menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan organisasi sekaligus memperkuat pengabdian dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan umat.
“MDI lahir bukan hanya untuk menjaga tradisi dakwah, tetapi untuk memastikan dakwah hadir sebagai energi pemersatu, penguat moral, dan penggerak kepedulian sosial di tengah masyarakat,” katanya.
Momentum Milad tahun ini juga menjadi istimewa karena dibarengi pelaksanaan seleksi nasional MTQ dan Dakwah Disabilitas yang sebelumnya telah dimulai melalui kick off pada 29 Mei lalu. KH. Choirul Anam menyebut antusiasme masyarakat terhadap program tersebut sangat tinggi.
“Alhamdulillah respons masyarakat luar biasa. Tahun lalu kegiatan MTQ Disabilitas di tempat ini melibatkan tiga provinsi yakni Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, dengan peserta disabilitas netra dan daksa. Hari ini kita menyaksikan sesuatu yang sangat menyentuh, mereka yang tidak dapat mendengar dan berbicara ternyata mampu membaca Al-Quran melalui bahasa isyarat,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, MTQ dan Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional tahun 2026 diikuti 301 peserta dari berbagai daerah setelah dua peserta mengundurkan diri dari total 303 pendaftar.
“Angka 301 peserta ini menjadi simbol optimisme bagi kami. Namun yang lebih penting, ini menunjukkan bahwa ruang dakwah inklusif semakin diterima dan dibutuhkan. Dakwah tidak boleh eksklusif, tidak boleh membangun sekat. Justru dakwah harus menjadi jembatan yang memuliakan setiap manusia, termasuk saudara-saudara penyandang disabilitas,” tegas KH. Choirul Anam.
Grand Final MTQ dan Dakwah Disabilitas Tingkat Nasional dijadwalkan berlangsung pada 18–19 Juni 2026 di Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, Jawa Tengah.
Prestasi membanggakan turut mengiringi perjalanan program tersebut. Setelah tahun lalu MTQ Disabilitas yang melibatkan tiga provinsi berhasil meraih rekor MURI, tahun ini penyelenggaraan MTQ Disabilitas tingkat nasional oleh MDI resmi masuk Guinness Book of World Records.
“Alhamdulillah, jika MTQ Disabilitas tahun lalu yang melibatkan tiga provinsi berhasil mencatatkan rekor MURI, maka setelah melalui proses panjang, pada Selasa-Rabu kemarin MTQ Disabilitas Tingkat Nasional yang diselenggarakan MDI resmi masuk Guinness Book of World Records,” tutup KH. Choirul Anam.
Ini tak hanya menjadi capaian atau penghargaan, tetapi penegasan kepada dunia bahwa dakwah Islam yang inklusif, yang merangkul saudara-saudara disabilitas dengan penuh kemuliaan dan kesetaraan, lahir dan tumbuh dari Indonesia. {golkarpedia}











