Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, M. Sarmuji, menegaskan bahwa perang melawan kanker tidak cukup hanya dengan kampanye hidup sehat, tetapi juga menuntut kesiapan sistem kesehatan, terutama dalam hal deteksi dini dan ketepatan diagnosis medis.
Hal itu disampaikan Sarmuji saat memberikan pidato pembukaan dalam Seminar Peringatan Hari Kanker Sedunia bertema “Bersama Melawan Kanker Menuju Masa Depan Lebih Sehat” yang diselenggarakan oleh Ikatan Istri Fraksi Partai Golkar (IIFPG) DPR RI, Rabu (4/2/2026), di Ruang KK II Gedung Nusantara II, DPR RI.
Sarmuji mengungkapkan bahwa kanker merupakan penyakit yang sangat kompleks, bahkan pada beberapa jenis kanker, penyebab maupun tanda-tanda awalnya sulit dikenali. “Kanker itu banyak jenisnya dan tidak semuanya mudah dideteksi. Bahkan sampai sekarang, ada jenis kanker tertentu yang penyebabnya pun belum sepenuhnya kita ketahui,” ujar Sarmuji.
Ia mencontohkan pengalaman pribadi keluarganya yang menghadapi kanker darah, yang justru tidak menunjukkan indikator laboratorium yang lazim dikenal masyarakat. “Pada kanker darah yang dialami keluarga saya, hasil uji laboratorium darah tidak menunjukkan peningkatan leukosit yang signifikan. Padahal selama ini kita mengenal peningkatan leukosit sebagai tanda utama kanker darah,” ungkapnya.
Menurut Sarmuji, kondisi tersebut menyebabkan proses diagnosis menjadi sangat sulit dan memakan waktu lama. Bahkan, sempat terjadi kesalahan diagnosis selama berbulan-bulan sebelum penyakit tersebut teridentifikasi secara tepat.
“Selama beberapa waktu, kadar leukositnya normal-normal saja. Dokter pun tidak mengira itu kanker. Sampai akhirnya setelah hampir sepuluh bulan, baru diketahui secara pasti setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih mendalam,” kata Sarmuji yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar ini.
Dari pengalaman itu, Sarmuji menekankan bahwa kesiapan dokter dalam membuka berbagai kemungkinan diagnosis menjadi faktor yang sangat krusial, mengingat banyak penyakit memiliki gejala yang saling beririsan.
“Banyak penyakit yang gejalanya mirip. Sakit perut, demam biasa, demam berdarah, atau tifus, gejalanya hampir sama. Begitu juga antara anemia jenis tertentu, penyakit autoimun, dan kanker darah,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa kecenderungan dokter untuk terlalu terpaku pada satu diagnosis awal dapat berakibat fatal bagi pasien.
“Kalau dokter hanya memasang ‘mata kuda’, hanya mengandalkan satu diagnosis dan menutup kemungkinan penyakit lain, itu sangat berisiko. Kesalahan diagnosis bisa berujung pada pemberian obat yang salah,” tegas Sarmuji.
Bahkan, lanjutnya, kesalahan terapi tidak hanya membuat pengobatan menjadi tidak efektif, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan pasien. “Ada ungkapan, obat kadang-kadang bisa lebih berbahaya daripada penyakitnya. Kalau diagnosisnya salah, obatnya pun salah, dan itu bisa memperparah kondisi pasien,” tambahnya.
Dalam konteks nasional, Sarmuji juga menyoroti fakta bahwa hingga saat ini masih banyak penderita kanker di Indonesia yang tidak tertolong karena keterlambatan deteksi dini. “Di Indonesia, sampai sekarang masih lebih dari separuh penderita kanker tidak tertolong. Salah satu faktor utamanya adalah terlambatnya deteksi dini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa gaya hidup sehat saja tidak selalu cukup untuk mencegah kanker, karena penyakit ini juga bisa menyerang siapa saja tanpa pandang latar belakang. “Kadang-kadang kanker itu tidak jelas sebabnya. Orang yang hidup sangat sehat, disiplin, dan tertib sekalipun tetap punya kemungkinan terkena kanker,” kata Sarmuji.
Karena itu, ia menilai bahwa deteksi dini menjadi kunci paling menentukan dalam upaya penyelamatan pasien kanker. “Bukan hanya pencegahan yang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita bisa mendeteksi kanker sedini mungkin. Kalau sudah terlambat terdeteksi, penanganannya akan jauh lebih sulit,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Sarmuji juga menyampaikan apresiasi kepada Ikatan Istri Fraksi Partai Golkar (IIFPG) DPR RI atas penyelenggaraan seminar yang dinilainya sangat bermakna, tidak hanya bagi penyintas kanker, tetapi juga bagi keluarga yang mendampingi proses perjuangan tersebut.
“Acara ini bukan hanya untuk para pejuang kanker yang sedang berjuang untuk sembuh, tetapi juga untuk menyemangati mereka yang telah berjuang meski hasilnya belum seperti yang diharapkan,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam menghadapi kanker, sebagaimana disampaikan oleh para penyintas yang hadir dalam seminar tersebut. “Support system itu sangat penting. Keluarga memiliki peran yang sangat besar dan bermakna dalam perjuangan melawan kanker,” ujarnya.
Menutup pidatonya, Sarmuji menyampaikan pesan reflektif tentang makna perjuangan hidup dan ikhtiar manusia di hadapan Tuhan. “Hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Setiap perjuangan melawan penyakit adalah ikhtiar yang mulia, dan tidak ada satu pun perjuangan yang sia-sia di hadapan Tuhan,” pungkasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut, Ibu Ketua Umum DPP Partai Golkar, Sri Suparni Bahlil Lahadalia; Bendahara Umum DPP Partai Golkar, Sari Yuliati; Ketua IIFPG DPR RI, Ibu Maqnuniah Sarmuji; beserta jajaran anggota dan pengurus IIFPG DPR RI. Tak lupa, acara seminar ini dimeriahkan oleh pemateri, Yani Nirmalasari S.K.M selaku Yayasan Pemerhati Kanker Indonesia (YPKI), DR. Siti Nadia Tarmizi selaku Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dan DR. Fitriyadi Kusuma selaku Kepala Divisi RSCM. {golkarpedia}











