TIM Komisi XIII DPR melakukan kunjungan kerja reses ke Balai Permasyarakatan (Bapas) Kelas 1 Semarang, Jawa Tengah, Senin (23/2/2026).
Dalam kunjungan kerja yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Dewi Asmara (F-Partai Golkar) itu, turut hadir pula beberapa Anggota Komisi XIII DPR lainnya. Di antaranya, yaitu Muslim Ayub (Fraksi Partai NasDem), Eko Kurnia Ningsih dan Rapidin Simbolon (F-PDIP), Maruli Siahaan (F-PGolkar) dan Raja Faisal Manganju Sitorus (Fraksi Partai Demokrat).
Kedatangan Komisi XIII ke Bapas Kelas 1 Semarang disambut dengan penuh kehangatan olah warga binaan dan juga seluruh pegawai Bapas.
Rombongan Komisi XIII DPR didampingi Kepala Bapas Kelas 1 Semarang Totok Budiyanto mengelilingi seluruh area Bapas, serta bertemu narapida dan beberapa mantan narapidana (klien permasyarakatan) yang ada dalam pendampingan Bapas Kelas 1 Semarang.
Beberapa klien permasyarakatan memiliki produk usaha hasil pendampingan dari Bapas. Di hadapan para Anggota DPR Komisi XIII, klien bersama pegawai bapas menampilkan beberapa produk yang dihasilkan seperti kebab dan keripik singkong ketan.
Dalam kesempatan itu, Dewi Asmara memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran Bapas Kelas 1 Semarang dalam melaksanakan pendampingan.
“Kami melihat secara langsung bagaimana proses pendampingan yang dilakukan oleh Bapas, kami apresiasi dan terkesan bahwa ternyata dengan efisiensi anggaran tidak menyurutkan semangat seluruh teman-teman yang ada di Bapas,” ujarnya, dikutip dari laman DPR RI.
Ia pun tidak lupa memberikan semangat dan dukungan kepada para petugas di Bapas Kelas 1 Semarang tersebut. “Jadi teman-teman supaya tetap semangat, maju terus Insya Allah kami akan suarakan pada rapat kerja dengan Menteri nanti di Komisi XII,” pungkas Dewi.
Bapas Kelas I Semarang adalah lembaga Pemasyarakatan yang berfokus pada pendampingan, penelitian kemasyarakatan (Litmas), dan pembimbingan klien (mantan warga binaan) agar dapat kembali ke masyarakat.
Persoalan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan jumlah Pembimbing Kemasyarakatan (PK) untuk melayani klien yang banyak, anggaran terbatas untuk home visit yang maksimal, dan kebutuhan penguatan kerjasama pembimbingan keterampilan klien.
Adapun persoalan dan tantangan utama Bapas Kelas 1 Semarang ini, di antaranya, yaitu kurang optimalnya SDM. Yaitu, Petugas Pembimbing Kemasyarakatan (PK) kurang maksimal dalam menjalankan tusi karena belum semua mengikuti diklat teknis yang memadai.
Selain itu, minimnya anggaran perjalanan dinas dan operasional untuk home visit (kunjungan rumah) terbatas, yang berdampak pada pengawasan klien menjadi kurang maksimal.
Selain itu, terdapat pula risiko residivis yang tinggi akibat kurangnya keterampilan untuk mandiri, sehingga memerlukan pembinaan kepribadian dan keterampilan yang intensif. []











