ANGGOTA Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Jamaludin Malik mendukung langkah pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026), Jamaludin menilai langkah tersebut penting untuk menjaga daya beli masyarakat serta memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan baik pada periode meningkatnya kebutuhan energi rumah tangga, dan mengapresiasi
“Kami di Komisi XII DPR RI mendukung langkah pemerintah melalui Kementerian ESDM dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga energi nasional. Upaya antisipatif seperti ini penting agar masyarakat tetap merasa tenang di tengah dinamika geopolitik global yang berkembang,” ujar Jamaludin, dikutip dari Antaranews.
Penguatan ketahanan energi nasional, ujar dia, perlu terus menjadi perhatian bersama. Salah satunya, melalui peningkatan kapasitas cadangan energi nasional agar Indonesia memiliki ruang antisipasi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai potensi gangguan pasokan energi global.
“Pengembangan infrastruktur penyimpanan energi atau storage menjadi langkah strategis yang dapat memperkuat sistem cadangan energi nasional dalam jangka menengah dan panjang,” ujarnya.
Selain itu, ia menilai upaya pemerintah dalam memastikan ketersediaan energi nasional patut diapresiasi, terutama dengan kondisi stok bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini masih berada pada kisaran sekitar tiga pekan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem pasokan energi nasional masih dalam kondisi terjaga, dan menyambut baik kebijakan pemerintah yang memastikan harga BBM bersubsidi tetap stabil menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan akan menambah kapasitas penyimpanan (storage) stok bahan bakar minyak (BBM), dari yang semula hanya 25-26 hari, menjadi 90 hari atau tiga bulan.
Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026). “Faktanya, ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25–26 hari, tidak lebih dari itu,” ucap Bahlil.
Pernyataan tersebut merespons perbandingan antara ketahanan energi Indonesia dengan Jepang, di mana stok BBM Indonesia dapat bertahan dalam durasi kurang dari 30 hari. Sementara, Jepang memiliki stok BBM untuk 254 hari ke depan.
Ketimpangan tersebut disebabkan oleh terbatasnya storage yang dimiliki oleh Indonesia. Pemerintah saat ini sedang berusaha untuk membangun storage yang kapasitasnya bisa mencapai 90 hari atau tiga bulan, agar selaras dengan standar internasional, dan studi kelayakan atau feasibility study ihwal pembangunan storage sedang berlangsung. []











