Eric Hermawan: Listrik dan Jaringan Komunikasi Jadi Kunci Pemulihan Ekonomi Pascabanjir

ANGGOTA Komisi XI DPR RI, Eric Hermawan menyoroti pentingnya percepatan pemulihan sektor telekomunikasi pascabencana banjir yang melanda sejumlah daerah. Menurutnya, gangguan pada infrastruktur listrik dan jaringan komunikasi menjadi faktor utama yang melumpuhkan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan ekonomi.

Eric mengungkapkan keprihatinannya atas dampak luas bencana yang tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga pemerintah dan dunia usaha. Ia menilai kelumpuhan pada sektor listrik dan telekomunikasi harus segera ditangani karena menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi.

“Jadi bencana banjir ini kan merugikan semua rakyat, pemerintah dan sebagainya dan memang harus prihatin. Saya melihat bahwa kelumpuhan utama adalah listrik dan telekomunikasi,” ujar Eric kepada Parlementaria usai mengikuti kunjungan kerja reses Komisi XI DPR ke Padang, Sumatera Barat, Jumat (20/2/2026).

Ia menegaskan, pemulihan jaringan komunikasi harus menjadi prioritas agar aktivitas ekonomi masyarakat bisa kembali berjalan. Tanpa konektivitas yang memadai, berbagai transaksi digital tidak dapat dilakukan secara optimal.

“Pemerintah harus memperhatikan juga pada komunikasi. Komunikasi ini perlu dibangkitkan kembali sehingga ekonomi rakyat juga tumbuh kembali,” lanjut Politisi Fraksi Partai Golkar itu.

Eric juga mendorong adanya dukungan konkret dari pemerintah dan otoritas keuangan, termasuk Bank Indonesia, untuk membantu sektor telekomunikasi. Menurutnya, perusahaan-perusahaan di bidang keuangan dapat memberikan insentif guna mempercepat pemulihan jaringan.

Ia mencontohkan pentingnya peran telekomunikasi dalam mendukung sistem pembayaran digital seperti QRIS dan BI-FAST. Tanpa jaringan yang kuat, layanan tersebut tidak dapat berfungsi secara optimal.

“Karena tanpa perusahaan telekomunikasi, QRIS kemudian BI-Fast ataupun payment-payment lain tidak akan terjadi. Sulit, karena butuh sinyal, butuh 4G dan 5G,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengusulkan agar sebagian pendapatan dari sistem pembayaran digital dapat dialokasikan untuk mendukung pembangunan infrastruktur telekomunikasi, terutama di wilayah terpencil.

Menurut Eric, ketimpangan jaringan masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah, seperti di Maluku dan Kupang, yang masih kesulitan mengakses jaringan berkualitas tinggi untuk transaksi digital.

“Kalau di daerah terpencil kayak di Maluku, di Kupang, kan susah kita transaksi pakai QRIS. Kenapa? Jaringannya tidak ada, 2G ada tapi 5G tidak ada,” ujarnya.

Ia menegaskan, meski isu telekomunikasi bukan menjadi ranah utama Komisi XI, pihaknya tetap memberikan masukan kepada pemerintah agar kebutuhan infrastruktur digital mendapat perhatian serius dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional. []

Leave a Reply