MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan ada salah satu menteri yang meragukan lifting (produksi minyak siap jual) bisa naik tanpa adanya penemuan ladang minyak baru.
Sebagai informasi, lifting nasional pada 2025 mencapai 605,3 ribu barel per hari.
“Kok ada salah satu anggota DPR dan salah satu menteri yang mengatakan bahwa bagaimana mungkin lifting naik sementara sumur besar belum ada. Eh ini terlalu banyak baca buku nih,” ujar Bahlil dalam acara Kuliah Umum yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Bahlil menegaskan capaian lifting tersebut merupakan yang terbaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya sudah beberapa tahun target lifting minyak nasional tidak pernah tercapai.
“Di dalam APBN kita di 2024 lifting kita itu tidak mencapai target, bahkan cuma mencapai 585 ribu barel per day. Tapi dengan ramuan pertama pada tahun pertama, alhamdulillah lifting kita di 2025 mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per day. Jadi ini fakta lho, ini bukan omon-omon,” ujar Bahlil, dikutip dari Detik.
Menurut Bahlil capaian tersebut seharusnya dilihat obyektif, dan capaian lifting ini bisa diuji.
“Jangan dipolitisir gitu loh. Jangan ada partai A mengatakan bahwa ini datanya lain. Nah itu kita harus objektif gitu dong. Jangan baru sudah terjadi baru mulai olah sana olah sini. Waktu dikasih kewenangan dikasih tugas tidak dikerjakan, ada apa? Ada konspirasi apa di situ? Jangan orang Papua bilang tulis lain, baca lain, bikin lain. Nah ini ini fakta nih, bisa diuji,” jelas Bahlil.
Tiga Strategi
Bahlil mengakui bahwa saat ini memang belum ada penemuan sumur baru yang besar. Namun capaian lifting sebesar 605,3 ribu barel tersebut terjadi kerena menjalankan sejumlah strategi.
Pertama, memetakan sejumlah sumur yang ada di Indonesia yang nantinya akan ditindaklanjuti. Ia bilang saat ini ada sekitar kurang lebih 40.000 sumur. Namun yang sumur berproduksi hanya sekitar 17.000 sumur. Itu pun merupakan sumur-sumur tua.
Dari kondisi tersebut, maka perlu adanya optimalisasi teknologi melalui EOR, kemudian melakukan pengelolaan terhadap sumur-sumur yang nganggur atau idle well dengan melakukan kerja sama dengan pihak lain.
Kedua, mempercepat proses perizinan puluhan ribu sumur minyak masyarakat di sejumlah daerah agar dapat segera berkontribusi terhadap lifting nasional.
Ketiga, melakukan ilmu tekan menekan. Artinya ia mendorong KKKS yang sudah melakukan POD untuk segera melakukan konstruksi untuk bisa produksi. Jika hal tersebut tak dilakukan maka akan dicabut izin produksinya.
Bahlil mencotohkan yang terjadi pada Inpex dan Exxon, pada tahun 2024 produksi Exxon hanya mencapai 140 ribu barel per day. Namun setelah ada komunikasi pihaknya dengan Exxon, maka produksi pasa tahun 2025 alami peningkatan.
“Dia lupa kalau kita itu komunikasi terus dengan K3S, cadangan kau jangan kau sembunyikan, kau naikin cepat. Kalau habis kita kasih kamu yang baru lagi. Kenapa mereka membuat pelan-pelan agar mereka mempunyai bisnis yang panjang, profitnya biar sedikit, yang penting panjang. Tapi kalau kita bilang kau naikin produksi, profitnya naik, waktunya pendek supaya panjang, kita kasih nilai kerja baru lagi, gitu loh,” tambahnya.
Siapa Menteri yang Disentil Bahlil?
Sebelumnya, anggota Komisi XII DPR Fraksi PDIP Cornelis menanggapi pemaparan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto soal lifting minyak tahun 2025.
Cornelis mengaku bingung dengan perbedaan fakta dan data antara SKK Migas dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebut, berdasarkan penjelasan Menteri Purbaya, lifting migas itu baru bisa naik jika ada penambahan sumur baru.
“Menkeu bilang lifting itu bisa naik kalau ada penambahan sumur baru, nah ini apakah ada penelitian sumur baru?” kata Cornelis saat rapat dikutip dari detiknews.
Dia menilai Menteri ESDM Bahlil yang bermain kata-kata. Cornelis mengaku bingung harus percaya dengan data Bahlil atau penjelasan Purbaya.
“Jadi perbedaan antara Menkeu dan Menteri ESDM ini kelihatannya Menteri ESDM hanya permainan kata-kata, permainan istilah, kalau kami lihatnya, atau dengarnya, cermatinya, analisisnya, masuk dalam otak kami yang bukan teknis ini, seolah-olah Menteri ESDM ya ada bohong-bohong sikit lah, pegangan kami yang mana yang benar ini, tolong Bapak beri penjelasan,” tegas Cornelis.
Sebagai informasi, Menteri Keuangan Purbaya memang sempat bicara terkait lifting migas saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR pekan lalu. Ia menyebut lifting migas pasti turun terus jika tidak mencari titik eksplorasi bor lainnya.
“Ini PNBP migas itu hampir pasti turun terus kalau kita nggak ada eksplorasi baru, karena nature dari reservoir itu pasti turun kalau sudah capai puncak pasti turun terus, nggak ada yang bisa naik. Jadi salah satu cara adalah mengundang investor baru domestik atau asing untuk lakukan eksplorasi minyak dan gas, atau eksploitasi ladang ladang yang sudah ditemukan,” kata Purbaya dalam rapat tersebut, Rabu (4/2/2026).
Tak hanya itu, Purbaya juga menyebut saat ini yang terjadi hanya membuat kesan lifting migas naik dengan mempermainkan istilah. Dia menekankan tanpa adanya ladang minyak baru, maka lifting migas akan turun terus.
“Kalau sekarang ya diputer-puter ya juga paling main-main istilah supaya kelihatan naik kan, tapi tanpa penemuan ladang minyak baru, tanpa eksplorasi baru, kita nggak akan bisa naikkan lifting dan lifting kita akan turun terus,” ujar Purbaya. []











