MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan kerja sama pengembangan ekosistem baterai di Indonesia antara PT Aneka Tambang atau Antam, Industri Baterai Indonesia (IBI), serta konsorsium yang dipimpin oleh Zhejiang Huayou Cobalt Co bernama HYD dari China.
Penandatanganan kerangka kerja sama dilakukan di kantor Kementerian ESDM hari ini. Menurut Bahlil, investasi pada proyek bernama Titan tersebut tembus US$ 7 miliar sampai US$ 8 miliar, atau setara Rp 116,90 triliun sampai Rp 133,60 triliun.
“Program ini, nilai investasinya, US$ 7-8 miliar. Sebenarnya ini merupakan tindak lanjut dari apa yang sudah dibangun, 10 giga pertama pada tahun 2023, yang sekarang sudah beroperasi,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1/2026), dikutip dari Detik.
Mulanya proyek ini direncanakan digarap oleh investor asal Korea Selatan, LG. Namun dalam perjalanannya LG dinilai terlalu lambat mengeksekusi sehingga diganti oleh mitra baru asal China. Adapun groundbreaking proyek ini ditargetkan dilakukan pada semester I 2026 di dua lokasi.
“Ini lokasinya nanti ada dua, untuk untuk baterai mobilnya itu di Jawa Barat, tapi kalau untuk smelter, prekursor katodanya, dan HPAL-nya itu di Halmahera Timur, Maluku Utara. Karena lokasi tambangnya yang punya, itu di Halmahera Timur,” ujar Bahlil.
Melalui proyek ini Indonesia akan menjadi negara dengan ekosistem baterai mobil yang terintegrasi dari hulu ke hilir terbesar kedua di dunia setelah China. Bahlil juga yakin Indonesia mampu menjadi pemain besar dunia di sektor bahan baku baterai mobil listrik.
Ia meyakinkan bahwa pemerintah Indonesia akan menjadi pemegang saham mayoritas dalam proyek tersebut. Menurutnya, kekayaan negara harus dikelola dengan baik untuk kesejahteraan rakyat.
“Di atas 50%. Kita mau bikin masih maksimal, yang jelas di atas 50%, 60% sampai 70%, kita akan buat begitu, ya,” imbuhnya.
Di sisi lain, proyek yang akan menambah total kapasitas produksi baterai mencapai 20 GW ini juga sejalan dengan transisi menuju energi hijau. Bahlil menyebut Indonesia bisa mengurangi konsumsi BBM yang selama ini diimpor dan disubsidi oleh pemerintah.
“Motor kita itu ada 120 juta, itu pakai bensin semuanya, mobil juga. Nah cara untuk kita bagaimana menuju kepada ketahanan energi kita, selain tingkatkan lifting dan selain blending untuk biodiesel dan bioetanol, tidak ada cara lain adalah bagaimana main konversi. Motor menjadi motor listrik, mobil juga menjadi mobil listrik. Tapi kalau seandainya mobil listrik dan motor listrik itu baterainya dari luar, itu podo bae,” tutup Bahlil. []











