Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Brebes, Pamor Wicaksono, menilai peringatan Haul Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto yang ke-18 pada 27 Januari 2026 sebagai momentum penting untuk kembali membuka ruang diskusi tentang peran dan jejak sejarah Soeharto dalam perjalanan bangsa Indonesia. Menurutnya, haul bukan sekadar agenda mengenang, tetapi juga kesempatan membaca ulang sejarah secara lebih utuh dan berimbang.
Dalam konteks tersebut, Pamor menyinggung penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025. Ia berpandangan, keputusan itu tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan berangkat dari kontribusi Soeharto dalam berbagai peristiwa krusial sejarah bangsa.
“Penetapan itu selaras dengan perjuangan Pak Harto. Salah satunya bisa dilihat dari peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang mengguncang perhatian dunia internasional,” kata Pamor, Rabu (28/1/2026).
Pamor menjelaskan, Serangan Umum 1 Maret 1949 kerap dipandang sebagai salah satu titik balik penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia. Aksi tersebut, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa Republik Indonesia masih berdiri dan memiliki kekuatan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda di mata dunia internasional.
Ia menambahkan, rangkaian peristiwa itu turut membuka jalan menuju Konferensi Meja Bundar yang pada akhirnya berujung pada pengakuan internasional terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945. “Itu salah satu momentum penting dalam sejarah bangsa,” ujarnya.
Meski demikian, Pamor menegaskan bahwa peringatan haul Soeharto tidak seharusnya dipahami secara tunggal atau romantis semata. Ia menilai, haul justru perlu dimaknai sebagai ruang refleksi, terutama bagi generasi muda, untuk membaca sejarah secara lebih kritis dan menyeluruh.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat kontribusi para tokoh bangsa dengan tetap menempatkannya dalam konteks zamannya masing-masing, tanpa menutup mata terhadap dinamika dan kompleksitas sejarah yang ada.
“Kita perlu melihat sisi pengabdian putra-putra terbaik bangsa yang telah mendedikasikan diri kepada negara dan kepentingan publik,” kata dia.
Dalam pandangannya, nostalgia sebagian masyarakat terhadap kepemimpinan Soeharto juga tidak bisa dilepaskan dari pengalaman kolektif pada masa Orde Baru, khususnya melalui konsep Trilogi Pembangunan yang menekankan stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan pembangunan.
“Bagi sebagian masyarakat, masa itu identik dengan terpenuhinya kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan,” ujarnya.
Pamor berharap, peringatan haul Soeharto tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi sarana pembelajaran sejarah yang hidup bagi anak bangsa. Menurutnya, nilai-nilai pengabdian dan kepemimpinan perlu dipahami secara kritis agar dapat menjadi bekal dalam menatap masa depan Indonesia.
“Nilai-nilai pengabdian itu penting untuk dipahami secara kritis agar menjadi pelajaran ke depan,” kata Pamor. {golkarpedia}











