ANGGOTA Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama masyarakat dalam merespons kejadian bencana yang terjadi di sejumlah wilayah.
Hal tersebut disampaikannya saat kunjungan kerja spesifik Komisi VIII DPR RI ke Semarang, Jawa Tengah, Kamis (22/1/2026), dalam rangka evaluasi penanganan bencana di provinsi tersebut.
Atalia menegaskan bahwa bencana yang terjadi di Jawa Tengah bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan juga dialami oleh sejumlah daerah lain di Indonesia. Namun, berdasarkan berbagai masukan dan laporan yang diterimanya langsung dari warga, respons cepat pemerintah daerah dinilai patut diapresiasi.
“Saya menerima banyak sekali input dari warga Jawa Tengah. Mereka justru menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah daerah karena responsnya yang cepat,” ujar Atalia, dikutip dari laman DPR RI.
Ia menambahkan, tidak hanya pemerintah daerah, solidaritas dan empati masyarakat Jawa Tengah juga terlihat sangat kuat. Warga saling membantu sesama yang terdampak bencana, mulai dari tetangga, kerabat, hingga komunitas sekolah.
“Masyarakat menunjukkan empati yang luar biasa. Mereka bergotong royong membantu, bahkan anak-anak sekolah ikut membersihkan ruang kelas. Ini adalah hal yang sangat layak diapresiasi,” katanya.
Meski demikian, Atalia mengingatkan bahwa kejadian bencana di Jawa Tengah tidak bersifat insidental semata. Sejumlah wilayah justru mengalami bencana yang berulang setiap tahun sehingga membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih matang dan berkelanjutan.
“Kalau ini sudah menjadi kejadian tahunan, seharusnya kita sudah sangat paham dan siap. Karena itu saya mendorong agar pemerintah terus mengembangkan semangat dan budaya tangguh bencana,” tegasnya.
Politisi Fraksi Partai Golkar ini juga menjelaskan bahwa berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan pemerintah, mulai dari operasi mitigasi cuaca, penyaluran bantuan khusus kepada masyarakat, asuransi pertanian, hingga bantuan perbaikan rumah terdampak bencana. Namun, menurutnya, aspek sosialisasi mitigasi kebencanaan kepada masyarakat tetap harus diperkuat.
Atalia juga menyoroti pentingnya penguatan program desa tangguh bencana serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi masyarakat, kader pemberdayaan masyarakat, hingga peran generasi muda.
“Desa tangguh bencana sudah ada, tapi ini perlu terus dikembangkan dan dihitung kontribusinya oleh semua pihak, termasuk melibatkan anak-anak muda agar mereka juga memiliki kesadaran dan kesiapsiagaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Atalia menilai Indonesia perlu belajar dari praktik baik negara lain dalam meminimalkan dampak bencana, khususnya di wilayah dengan cuaca ekstrem. Ia menekankan pentingnya pendekatan adaptif dan harmonis dengan alam.
“Kita harus belajar bagaimana meminimalkan dampak bencana. Kuncinya adalah kesiapan masyarakat dan bagaimana kita bisa hidup selaras dengan alam,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah wilayah rawan bencana yang masyarakatnya telah beradaptasi, seperti membangun rumah panggung, menyiapkan logistik darurat, serta perlengkapan penerangan sebelum bencana terjadi.
“Masyarakat yang sudah terbiasa menghadapi bencana tahunan biasanya lebih siap. Ini yang perlu terus kita dorong agar dampak bencana bisa ditekan,” pungkas Atalia. []











