Yahya Zaini Ingatkan Kemenkes: Super Flu H3N2 Tak Bisa Dianggap Remeh

WAKIL Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mengingatkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar tidak menganggap remeh penyebaran virus super flu atau Influenza A H3N2 subclade K.

Yahya menilai, adanya laporan pasien meninggal dunia akibat terinfeksi super flu menunjukkan bahwa virus tersebut tetap berbahaya, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

“Virus tersebut tidak bisa dianggap remeh, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid,” kata Yahya saat dihubungi, Senin (12/1/2026).

“Kasus kematian membuktikan bahwa super flu sangat membahayakan, khususnya bagi mereka yang memiliki komorbid. Karena itu, Kemenkes harus meningkatkan surveilans secara menyeluruh kepada seluruh warga, terutama di daerah-daerah yang sudah terjangkit,” sambungnya, dikutip dari Kompas.

Yahya juga meminta Kemenkes lebih serius mengawasi perkembangan kasus super flu, termasuk dengan memberikan peringatan yang jelas kepada masyarakat mengenai potensi bahayanya. Dia secara khusus mengimbau Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk meluruskan pernyataan sebelumnya yang menyebut super flu tidak membahayakan.

“Dengan bukti ada yang meninggal, superflu termasuk penyakit yang membahayakan,” jelas Yahya.

Lebih lanjut, Yahya mendorong Kemenkes segera menyiapkan langkah-langkah antisipatif apabila penyebaran super flu meluas ke berbagai daerah. Langkah itu meliputi kesiapan rumah sakit, ketersediaan dokter spesialis, obat-obatan, hingga vaksin.

Selain kepada pemerintah pusat, Yahya juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus super flu. Dia meminta warga menjaga kebugaran tubuh dengan rutin berolahraga, menghindari kerumunan, serta menggunakan masker saat berada di tempat ramai.

Tak hanya itu, Yahya juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mengantisipasi penyebaran virus tersebut di wilayah masing-masing. “Pemda harus bersiap, termasuk menyiapkan rumah sakit bagi warganya yang terkena super flu,” kata Yahya.

Penjelasan Menkes soal kematian pasien super flu

Diberitakan sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin buka suara terkait kasus meninggalnya seorang pasien yang terinfeksi Influenza A H3N2 subclade K di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Jawa Barat.

Budi menegaskan, kematian pasien tersebut tidak disebabkan secara langsung oleh infeksi virus influenza, melainkan dipicu oleh penyakit penyerta yang telah lama diderita pasien.

“Nah, kenapa yang Bandung ada yang meninggal? Ya, ini yang Bandung meninggalnya karena punya penyakit lain. Meninggalnya bukan karena flu,” ujar Budi dalam konferensi pers, Senin (12/1/2026).

Dia menjelaskan, keberadaan virus dalam tubuh seseorang tidak selalu menjadi penyebab utama kematian, terutama jika pasien memiliki kondisi kesehatan kronis lain yang memperberat dampak infeksi.

“Misalnya ada orang flu, lalu dia tertabrak mobil. Dia memang punya flu, tapi meninggalnya karena tertabrak mobil, bukan karena flunya. Kasus di Bandung ini prinsipnya sama, karena memang pasien tersebut memiliki penyakit lain yang memperberat kondisinya,” tutur Budi. []