Di Balik Kemajuan Tiongkok, Saya Temukan Wajah-Wajah Perempuan Penggerak Negeri

ADA satu pertanyaan yang terus terngiang dalam benak saya sepulang dari Tiongkok. Di balik gedung-gedung pencakar langit, jaringan kereta cepat, kawasan industri berteknologi tinggi, dan kemajuan ekonomi yang sering menjadi perhatian dunia, siapa sesungguhnya orang-orang yang bekerja menggerakkan semua itu?

Kesempatan mengikuti kunjungan Delegasi Partai Golkar ke Changsha, Shaoshan, Lanzhou, dan Beijing pada 15–23 Juli 2026 atas undangan International Department of the Communist Party of China (IDCPC) perlahan menjawab pertanyaan tersebut. Selain mempelajari pembangunan dan tata kelola pemerintahan, saya justru menemukan hal yang paling berkesan: begitu banyak perempuan menduduki posisi strategis sebagai pemimpin institusi pendidikan, akademisi, birokrat, hingga diplomat. Mereka hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penggerak.

Kesan pertama saya hadir di Hunan Provincial Party School of the CPC, Changsha, saat disambut Madam Liu Yi, Wakil Rektor lembaga pendidikan kader partai di Provinsi Hunan. Keramahan, ketenangan, dan perhatian beliau kepada setiap anggota delegasi menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu ditampilkan melalui suara yang keras, tetapi melalui kepedulian, perhatian, dan penghargaan kepada orang lain. Dari beliau saya belajar bahwa kualitas kepemimpinan dibangun melalui karakter. Di lembaga inilah ribuan kader partai dan pejabat pemerintahan dipersiapkan untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar dalam birokrasi Tiongkok.

Hari berikutnya kami mengikuti perkuliahan dari Associate Professor Wu Nan mengenai tata kelola publik dan pembangunan ekonomi Tiongkok. Beliau menjelaskan transformasi industri, pengembangan kawasan teknologi tinggi, dan keberhasilan pengentasan kemiskinan ekstrem melalui perencanaan pembangunan yang terintegrasi. Yang paling membekas bagi saya bukan hanya isi materinya, tetapi cara beliau menyampaikan gagasan dengan tenang, sistematis, dan meyakinkan.

Satu momen yang saya ingat bahwa Professor Wu Nan sendiri bercerita kalau dia tidak membayangkan Tiongkok akan dapat berkembang semaju ini sekarang bahkan mampu memproduksi mobil listriknya sendiri. Dari sini, saya melihat bahwa ilmu pengetahuan merupakan bentuk kepemimpinan yang mampu memberi arah bagi pembangunan bangsa.

Di Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu, saya semakin memahami bahwa keberhasilan diplomasi juga ditentukan oleh mereka yang bekerja di balik layar. Madam Zhang Qinghong, Direktur Divisi Konsuler pada Kantor Urusan Luar Negeri Pemerintah Provinsi Gansu, mengoordinasikan seluruh agenda delegasi, mulai dari pertemuan dengan para Ketua Distrik, Wali Kota Lanzhou hingga audiensi bersama Wakil Gubernur Gansu. Profesionalisme, ketelitian, dan kemampuan komunikasinya memastikan seluruh kegiatan berjalan lancar. Darinya saya belajar bahwa diplomasi dibangun melalui kemampuan menghubungkan orang, membangun kepercayaan, dan memastikan setiap proses berlangsung dengan baik.

Di Beijing kami kembali memasuki ruang belajar di CPC Central Party School. Professor Ma Li menjelaskan pembangunan organisasi partai (Party Building), sistem meritokrasi, serta kaderisasi yang menekankan kompetensi, pengalaman, dan rekam jejak sebagai dasar pembinaan pemimpin (Bell, 2015). Beliau menegaskan bahwa kualitas organisasi sangat bergantung pada proses pembinaan kader yang berkelanjutan. Kehadirannya sebagai salah satu pengajar utama di Sekolah Partai Pusat bagi calon pemimpin nasional menunjukkan bahwa perempuan juga memegang peran penting dalam menjaga kualitas kelembagaan politik dan membentuk generasi pemimpin masa depan.

Puncak perjalanan kami terjadi ketika Delegasi Partai Golkar diterima secara hangat oleh Madam Sun Haiyan, Wakil Menteri IDCPC yang menjadi inisiator program kunjungan ini. Dengan pengalaman sebagai diplomat senior dan mantan Duta Besar Tiongkok untuk Singapura, beliau menjelaskan pentingnya diplomasi antarpartai dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Tiongkok.

Kehadiran beliau menerima langsung delegasi Golkar mencerminkan eratnya hubungan yang dibangun melalui dialog, pertukaran pengalaman, dan kerja sama kelembagaan. Pertemuan itu terasa lebih dari sekadar agenda seremonial. Saya melihat bagaimana seorang perempuan mampu berdiri di garis depan diplomasi internasional dengan membangun jembatan kepercayaan melalui dialog, saling menghormati, dan kerja sama yang berkelanjutan.

Semakin lama mengikuti seluruh rangkaian kunjungan, semakin saya menyadari bahwa kelima perempuan tersebut memiliki kesamaan. Mereka berasal dari bidang yang berbeda, tetapi memperoleh kepercayaan karena kompetensi, dedikasi, dan profesionalisme. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa kemajuan sebuah bangsa lahir ketika setiap orang memperoleh kesempatan yang sama untuk berkarya sesuai kapasitasnya. Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Miss Xia Xin dari IDCPC dan Miss Wang Qun sebagai penerjemah yang mendampingi Delegasi Partai Golkar sepanjang perjalanan. Keramahan dan dedikasi keduanya menjadi pengingat bahwa diplomasi juga dibangun oleh orang-orang yang bekerja dengan tulus di balik layar.

Refleksi tersebut membawa pikiran saya kembali kepada Partai Golkar. Saya bangga melihat banyak perempuan kader Golkar, seperti Hetifah Sjaifudian, Meutya Hafid, Sari Yuliati, Atalia Praratya, dan Airin Rachmi Diany, yang telah menunjukkan kiprah sebagai pemimpin, pembuat kebijakan, dan komunikator publik. Karena itu, pelajaran terbesar yang saya bawa pulang dari Tiongkok bukanlah tentang meniru sistem politik negara lain, melainkan pentingnya memperkuat kaderisasi perempuan dan membuka ruang kepemimpinan yang lebih luas.

Di balik kemajuan Tiongkok, saya menemukan perempuan-perempuan inspiratif yang mengajarkan bahwa kepemimpinan lahir dari ilmu, integritas, kerja keras, dan ketulusan. Pengalaman bersama Delegasi Partai Golkar ini akan selalu menjadi bekal berharga untuk terus mengabdi dan mendorong semakin besarnya peran perempuan bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Oleh: Yollanda Vusvita Sari, M.Pd, Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Pengajian Al Hidayah/Dosen Prodi Komunikasi IBI Kosgoro 1957

Leave a Reply